Selamat Jalan Franky Sahilatua

April 20th, 2011 by pitaloka

franky-sahilatua

Franky Sahilatua yang mengenalkan saya dengan politik empati, Franky Sahilatua yang pertama kali memperkenalkan pada perjuangan buruh dan TKI, kami berdua sering bertugas temani Gus Dur.

Franky Sahilatua dan Gus Dur yang mendorong saya memilih PDI-P sebagai rumah politik, Franky Sahilatua yg menguatkan saya untuk bertahan menghadapi “guncangan” dari luar dan dalam partai sendiri.

Franky Sahilatua kekuatan bagi saya untuk tidak pernah lelah berjuang utk rakyat…

Saya sakit hati, kl saja SJSN dijalankan. Tidak perlu Franky Sahilatua dan rakyat lainnya hrs “mengemis” utk bs berobat saat sakit..

Barusan saya berdoa bersama buruh-buruh di Pasuruan utk Franky Sahilatua. Kematian Franky Sahilatua jadi api bagi kami utk tak akan mundur memperjuangkannya RUU BPJS dan dijalankannya SJSN utk seluruh rakyat.

Franky Sahilatua tak pernah mati di hati kami, Franky Sahilatua akan tetap temani setiap langkah juang kami.

Selamat jalan Mas Franky, syairmu api yg kobarkan perjuanganku, sampai kapan pun. Selamat jalan kakak, sahabat, guruku, doaku tak akan henti untukmu, karena aku mencintaimu, selamat jalan

~ RDP ~

RAPORT 100 HARI KINERJA MENTERI KESEHATAN

Januari 27th, 2010 by pitaloka

Pernyataan berhasil bagi kinerja 100 hari menteri KIB II adalah sebuah penyesatan logika publik. Begitu pula dengan penilaian terhadap kinerja 100 hari Menteri Kesehatan. Persentasi Menteri Kesehatan pada Rapat Kerja dengan Komisi IX disampaikan bahwa “dari 12 rencana aksi hampir seluruhnya sudah tercapai (114,8%) pada H75”

Berdasarkan realitas yang ada dimasyarakat, terkait carut marutnya pelayanan kesehatan, persoalan obat, tenaga medis dan keamanan di lembaga kesehatan, saya menilai: PARAMETER SUKSES PROGRAM 100 HARI MENTERI KESEHATAN TIDAK JELAS, karena TIDAK MENYELESAIKAN dan TIDAK MEMBENAHI AKAR PERSOALAN, TIDAK MEMBERI SOLUSI PERSOLAN KESEHATAN MASYARAKAT.

Ibarat penyataan BPK terhadap laporan keuangan pemerintah SBY, selama lima tahun berturut-turut menilai DISCLAIMER, maka penilaian serupa juga saya katakan terhadap KINERJA 100 HARI MENKES, tidak ada penilaian, unqualified.

Berdasarkan hal-hal di atas, saya, Rieke Diah Pitaloka, anggota komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, memberikan beberapa catatan, pernyataan sikap dan rekomendasi mengenai:

1. Kementrian Kesehatan RI harus segera membenahi koordinasi antara pusat dengan daerah, bekerja sama dengan Kementrian Dalam Negeri. Peraturan-peraturan yang bersifat prinsip dan menyangkut hajat hidup orang banyak, terutama di bidang kesehatan TIDAK DAPAT DIOTONOMISASIKAN.


2. Pemberian layanan kesehatan dengan mekanisme Jamkesmas/Jamsosnas dan Jamkesda harus diselaraskan dengan UU 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Kementrian Kesehatan TIDAK BOLEH MENJADI OPERATOR ASURANSI KESEHATAN, kementrian harus lebih fokus sebagai regulator dan mengoptimalkan kerja pada penyediaan infrastruktur kesehatan.


3. Keberhasilan Kementrian Kesehatan tidak bisa SEKEDAR DILIHAT DARI SEREMONIAL PEMBERIAN KARTU JAMKESMAS. KEMENTRIAN KESEHATAN HARUS MEMILIKI:

a. Database masyarakat yang berkategori miskin secara pasti tidak berdasarkan asumsi yang bersandar pada kriteria miskin BPS.

b. Terlibat aktif dalam penyelesaian tunggakkan Jamkesmas kepada RSUD akibat tidak sinergisnya laporan antara RSUD dengan pemerintah daerah. Hal ini berdampak negatif pada pelayanan kesehatan bagi orang miskin. Mereka harus menanggung biaya pengobatan diluar standar Jamkesmas,

c. Memperbaiki mekanisme rujukan


4. Kementerian Kesehatan harus segera melakukan sensus tenaga kesehatan. Dari pengakuan pihak Kementrian Kesehatan, Kementrian tidak memiliki data base dan inventarisasi pasti yang bisa memperlihatkan berapa jumlah Tenaga Medis dan kualifikasinya. Hal ini tentu berpengaruh terhadap penyebaran tenaga medis untuk menjalankan program kesehatan.


5. Ketersediaan Obat

a. Kementrian Kesehatan harus membangun kemandirian dalam bidang kefarmasian. Ketergantungan terhadap pihak asing dalam masalah ketersediaan obat adalah fenomena yang buruk bagi dunia kesehatan kita. Salah satu contoh adalah antiretroviral (ARV) bagi penderita HIV/AIDS. Menurut Prof Dr dr Sasuridjal Djauzi (Guru Besar Penyakit Dalam FKUI) 70% dana penanggulangan HIV/AIDS didapatkan dari bantuan luar negeri. Indonesia dibanjiri bermacam-macam produk tes HIV impor sehingga buatan Indonesia sendiri tidak berkembang . Akibatnya sebagian besar penderita tidak bisa mengaksesnya karena harganya mahal, 8 sampai 10 juta perbulan.

b. Kementrian Kesehatan harus mengalokasikan anggaran yang memadai untuk Litbangkes, termasuk untuk mendorong riset-riset untuk industri obat dalam negeri. Selain harga obat bisa terjangkau karena produksinya di dalam negeri, juga menambah pemasukan bagi negara karena mampu mengekspor obat, seperti dikatakan Kepala Bagian Humas PT Bio Farma, Tedi Herawan. Sejumlah vaksin yang sudah diekspor adalah vaksin polio, vaksin tetanus toksoid (TT) dan difteri tetanus pertusis (DTP).

c. Kementrian Kesehatan harus mencabut PERMENKES no 10101 MENKES/PER/XI/2008 tentang REGISTRASI OBAT, khususnya Pasal 2 ayat 4 terkait tidak adanya registrasi izin edar bagi obat donasi. Akibat peraturan ini semua obat berkategori donasi/sumbangan dari pihak asing, termasuk dari WHO, masuk ke Indonesia tidak melalui pintu BP POM, dengan asumsi obat dari WHO pasti terjamin kualitas dan keamanannya, BP POM dilibatkan ketika ada persoalan, obat diuji BP POM setelah ada ‘kejanggalan’, seperti pada kasus filariasis.


6. Mengenai persolan dugaan malpraktek, penolakan pasien miskin oleh rumah sakit tertentu, kasus penculikan bayi di rumah sakit dan puskesmas, jual beli organ manusia, dugaan adanya makelar proyek kesehatan termasuk di DPR dan hal-hal terkait persoalan kesehatan yang melibatkan oknum tertentu, maka pemerintah harus segera membuat SATGAS MAFIA KESEHATAN. Tujuannya agar ada pengawasan dan sangsi tegas terhadap siapapun yang terlibat dalam “kejahatan di dunia medis”.


Alhamdulillah

Oktober 14th, 2009 by pitaloka

“Kawan-kawan tersayang, terima kasih untuk doa dan supportnya. Alhamdulillah, berdasarkan keputusan pimpinan Fraksi PDI-P, saya ditugaskan di Komisi IX yang membidangi tenaga kerja, kesehatan, BKKBN, POM, Askes, Jamsostek.

Salam juang,

Rieke Diah Pitaloka,
DPR RI, A-339

Ratifikasi Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran Dan Keluarganya

Oktober 13th, 2009 by pitaloka

Orasi Budaya, disampaikan di Komnas Perempuan, 12 Oktober 2009 dalam rangka dukungan pada Ratifikasi Konvensi PBB 1990

Jauh sebelum standar hukum yang telah ditetapkan dalam mengatur perlindungan HAM, sebagai manusia yang dilahirkan untuk bisa saling berbagi dan saling melindungi, kita sepakat bahwa penghilangan segala bentuk hak yang melekat pada seseorang adalah sebuah kejahatan terhadap kedaulatan manusia. Hari ini, berapa puluh kali kita menjadi saksi betapa penghilangan hak-hak pekerja migran menjadi santapan tak terelakan lagi. Fenomena itu sungguh teramat ironis mengingat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara pengirim pekerja migran terbesar di dunia, dan sudah barang tentu, memberikan manfaat finansial bagi negara. Pada tahun 2008 misalnya, diperkirakan terdapat lebih dari 200 juta pekerja migrant di dunia, dimana 6 juta dari jumlah tersebut berasal dari Indonesia dengan rincian 80% nya adalah perempuan dan 70% dari jumlah tersebut bekerja sebagai PRT (SP 2009).

Dengan melihat besarnya populasi TKI, tentunya memiliki keuntungan tersendiri bagi negara, bagaimana tidak, pada tahun 2006, pekerja migran berkontribusi memberikan keuntungan pada negara sebesar Rp. 55,8 Trilyun. Lebih mencengangkan lagi, nilainya meningkat tajam pada 2008 dengan memberikan keuntungan pada negara sebesar Rp. 82,4 Trilyun.(Data BI)

Berbicara masalah finansial dalam ruang lingkup pekerja migran Indonesia memang sangat menggiurkan. Namun,l jika kita melihatnya dari kehidupan para pekerja migran, justru berada pada posisi sebaliknya.Persoalan-persoalan yang menimpa saudara-saudara kita yang menjadi buruh migran seperti tiada habis-habisnya. Dari persoalan yang sangat teknis hingga tindak kekerasan fisik, phsikis, dan ekonomi. Bukan cerita baru kita mendengar, membaca, menyaksikan duka yang tertancap pada perempuan-perempuan yang berniat membantu perekonomian keluarganya, yang berarti juga membantu pemerintah dalam mengatasi keterpurukan ekonomi, berakhir dengan kisah tragis. Tak sedikit dari mereka disiksa, diperkosa, bahkan pulang tak bernyawa, bahkan ada yang tak pernah pulang tanpa ada kabar berita. Duka tidak hanya bagi para korban, tapi juga keluarganya. Duka yang menyengat para pejuang-pejuang kemanusiaan, yang seharusnya juga menggugah hati para pemimpin bangsa. Mereka yang kita anggap sebagai representasi dari negara.

Konstitusi Negara Republik Indonesia sesungguhnya secara transparan mengakui, menghormati dan memperjuangkan keberlangsungan Hak-Hak Asasi Manusia. Dalam Pembukaan UUD 1945 “… penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.” Kemudian pada pasal 28A dinyatakan, “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.” Dipertegas dalam pasal 28B hingga 28H, dan pada 28I yang mengatakan,”Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak utk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, …adalah hak azasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.”

Pertanyaannya siapa yang akan melindungi hak-hak warga negara tersebut? Secara gamblang dalam pembukaan UUD 1945 dikatakan “….Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia…..” Kita perlu mengaris bawahi kata melindungi, yang harus dilindungi adalah segenap bangsa Indonesia, dimana pun mereka berada, apapun profesi mereka, termasuk saudara-saudara kita yang menjadi buruh migran, harus dilindungi oleh negara! Perangkat hukum yang dikeluarkan oleh negara, tentu saja menjadi alat yang semestinya mampu memberikan perlindungan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan bangsa ini.

Dalam konteks perangkat hukum terkait persoalan buruh migran, diakui atau tidak, dengan semakin banyak kasus kekerasan yang menimpa para buruh migran, secara tegas saya katakan dalam forum ini. Perangkat hukum negara Republik Indonesia belum, bahkan sebagian justru tidak melindungi buruh migran, bahkan ketika mereka masih berada di dalam negeri! Tengok saja UU no 39 tahun 2004, banyak persoalan-persoalan yang tidak terselesaikan. Dalam arti kata kita memang butuh perangkat hukum, payung hukum lain, agar perlindungan yang diberikan bisa maksimal. Kebutuhan kita akan perangkat hukum tersebut sebetulnya bisa terpenuhi jika pemerintah segera meratifikasi Konvensi Internasional Mengenai Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Konvensi ini memang sudah ditandatangani pemerintah Indonesia yang direncanakan akan disahkan pada tahun ketiga RANHAM Indonesia 1998-2003. Lalu dicantumkan lagi sebagai salah satu dari dua belas instrumen HAM, yang dijanjikan akan disahkan pada RANHAM Indonesia 2004-2009. Tapi, disisa dua bulan terakhir 2009 ini, jangankan pengesahan, prosesnya pun belum juga dimulai oleh pemerintah. Di sisi lain, kita justru dikejutkan dengan penolakan pemerintah yang disampaikan melalui Menakertrans, adalah sebuah kemunduran yang patut kita pertanyakan.

Argumen-argumen penolakan yang dikemukakan pemerintah terkesan mengada-ngada dan justru memperlihatkan sikap yang asal-asalan dalam melihat fenomena kasus-kasus kemanusiaan yang menimpa para buruh migran kita. Saya secara justru menilai penolakan ini karena paradigma berfikir sebagian besar petinggi negara dalam melihat persoalan buruh migran hanya dalam kaca mata tata niaga, untung rugi seperti dalam neraca perdagangan. Buruh migran diakui karena devisa semata, sebatas angka, bukan sebagai manusia yang juga punya hak yang harus dilindungi oleh negara. Diratifikasinya konvensi Pekerja Migran 1990, sejujurnya akan memperlihatkan pada mata dunia bahwa bangsa ini bersungguh-sungguh dalam melindungi dan memperjuangkan hak-hak azasi manusia. Pasal 1 ayat 2 konvensi ini menetapkan bahwa konvensi berlaku bagi seluruh proses migrasi pekerja migran dan keluarganya yang meliputi: persiapan migrasi, keberangkatan, transit, keseluruhan masa tinggal dan kegiatan yang berupah di negara tempat bekerja, dan kembali (mereka) ke negara asal atau negara dimana (mereka) biasanya bertempat tinggal.”

Adanya alasan bahwa konvensi ini akan membuka pintu seluas-luasnya bagi tenaga asing untuk menguasai berbagai lapangan pekerjaan di Indonesia dapat kita sanggah apabila kita kaji secara seksama konvensi pasal 79, pasal 26 ayat 2, pasal 39 ayat 2, pasal 40 ayat 2, Negara Republik Indonesia tetap berwenang melakukan pembatasan hak tertentu bagi pekerja yang berada di Indonesia berdasarkan alasan keamanan nasional, ketertiban umum, atau perlindungan hak dan kebebasan orang lain.

Kita tentu berharap bahwa pemerintah yang baru kelak memberikan ketegasan sikap untuk meratifikasi konvensi Pekerja Migran 1990. Memang konvensi ini bukan perjanjian internasional mengenai kerjasama ekonomi, teknik, keuangan atau sejenisnya. Memang keuntungan yang diperoleh dengan meratifikasi ini tidak menitikberatkan pada sisi keuntungan materiil. Konvensi Pekerja Migran 1990 adalah instrumen HAM internasional. Penting artinya bagi penghormatan, perlindungan, penegakan, dan pemenuhan HAM di tataran nasional. Penting artinya bagi negara dan bangsa Indonesia sebagai bagian masyarakat dunia dalam hubungan internasional. Penting artinya sebagai bukti keseriusan pemerintah yang bersetia terhadap konstitusi, pemerintah yang bersetia pada Pancasila dan UUD 1945. Pemerintah yang menjalankan amanat UUD 1945, kembali saya ulangi diakhir penyampaian sikap saya dalam mendukung disahkannya Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota keluarganya. Ratifikasi konvensi tersebut adalah bukti nyata Pemerintah negara Indonesia memang secara bersungguh-sungguh bekerja untuk:

· Melindungi segenap bangsa bangsa Indonesia,

· Melindungi seluruh tumpah darah Indonesia,

· Memajukan kesejahteraan umum,

· Mencerdaskan kehidupan bangsa

Akhir kata, saya, Rieke Diah Pitaloka, Duta Buruh Migran Indonesia, mengajak saudara-saudara yang hadir disini untuk merapatkan barisan, bergandeng tangan untuk perjuangan kemanusian, mendesak pemerintah untuk segera merativikasi Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya.

We walk hand in hand

We walk hand in hand

We walk han in hand today

How deep in my heart I do belive

We walk hand in hand today

Jakarta, 12 0ktober 2009

PERNYATAAN SIKAP RIEKE DIAH PITALOKA

Oktober 9th, 2009 by pitaloka

Pernyataan Sikap Rieke Diah Pitaloka Terkait Tragedi Kekerasan terhadap Hapsari, Pekerja Rumah Tangga Asal Wonosobo, Jawa Tengah.

Peristiwa mengenaskan yang menimpa pekerja rumah tangga (PRT) bernama Hapsari, 39 tahun menjadi bukti kekerasan terhadap para PRT terus saja terjadi.

Kita Memiliki KUH Pidana dan UU Penghapusan KDRT, namun melihat banyaknya kasus serupa yang menimpa PRT di dalam dan di luar negeri, membuktikan bahwa perangkat hukum yang ada tidaklah mencukupi untuk memberikan perlindungan terhadap korban dan efek jera kepada pelaku.

Menanggapi peristiwa tersebut maka, saya Rieke Diah Pitaloka, anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan menyatakan :

  1. Turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga Hapsari dan mendoakan almarhumah mendapat tempat yang layak di sisi Allah S.W.T
  2. Negara harus sungguh-sungguh melindungi setiap warga negara sebagaimana tertuang dalam amanat Konstitusi UUD 1945.
  3. Mendorong RUU Pekerja Rumah Tangga untuk masuk kembali ke dalam Program Legislasi Nasional DPR RI periode 2009-2014 dan menjadi prioritas untuk segera di undangkan.
  4. Mendesak pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan secara tuntas serta mendesak pihak yang berwenang untuk memberikan sanksi tegas pada pelaku.

Demikian pernyataan ini saya buat semata-mata untuk kehidupan berbangsa yang lebih adil dan beradab, salam juang … MERDEKA !!!.

22 Desember: Hari Kebangkitan Perempuan INDONESIA Bukan Hari Ibu!

Desember 22nd, 2008 by pitaloka

Sebut saja, Pariyem sang tokoh dalam prosa lirik Linus Suryadi AG, Nyai Ontosoroh tokoh novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer, Marieneti Dianwidhi Sang tokoh novel Burung-burung Rantau karya YB Mangunwijaya, dan Cok, sang tokoh dalam novel Saman karya Ayu Utami. Empat tokoh perempuan Indonesia yang muncul dalam karya sastra, dengan latar belakang, zaman, dan semangat perempuan yang berbeda, kesemuanya menunjukkan wanita super –sanggup memberi warna pada kehidupan. Lalu bagaimana dengan perempuan Indonesia sesungguhnya (non-fiksi)?

Sebut saja Dewi Sartika, perempuan kelahiran Bandung, 4 Desember 1884 – wafat di Tasikmalaya, 11 September 1947 dalam umur 62 tahun. Dewi Sartika adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan –jauh sebelum RA Kartini, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Atau Ibu Inggit, istri setia mendiang Soekarno yang saat ini tengah hangat diusulkan sebagai pahlawan nasional. Lantas, bagaimana dengan kiprah perempuan Indonesia lainnya?

Memaknai Ulang Momentum 22 Desember

Dua bulan setelah Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda 1928, pada tanggal 22-25 Desember 1928 diadakan Kongres Perempuan Indonesian pertama di Yogyakarta. Kongres ini merupakan lembaran baru bagi pergerakan perempuan di Indonesia. Berbagai organisasi perempuan bersatu, bekerjasama untuk kemajuan masyarakat, khususnya kaum perempuan.

Kongres Perempuan Indonesia pertama menghasilkan keputusan dibentuknya badan pemufakatan organisasi-organisasi perempuan, bernama: Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia. Tujuan serikat ini adalah untuk memberikan berbagai informasi dan sebagai forum komunikasi antar organisasi perempuan. Kongres ini pun menghasilkan tiga tuntutan kepada pemerintah kolonial masa itu, berupa: 1) Penambahan sekolah untuk anak-anak perempuan; 2) Syarat bagi sebuah pernikahan, diberikannya keterangan taklik (janji dan syarat-syarat perceraian); 3) Peraturan yang mengharuskan diberikannya tunjangan kepada janda-janda dan anak-anak piatu pegawai pemerintah.

Apa yang dihasilkan pada Kongres Perempuan Indonesia pertama memperlihatkan: Pendobrakan terhadap feodalisme dan konservatisme yang ‘mengurung’ perempuan di ruang domestik; Kesadaran bahwa permasalahan-permasalahan yang dialami perempuan, berupa berbagai sikap diskriminatif, ketimpangan dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, tak akan berakhir tanpa perubahan arah kebijakan politik; dan Kesadaran bahwa kemajuan bangsa tidak dapat tercapai tanpa keterlibatan perempuan di ruang publik, khususnya ruang politik. Dengan kata lain, keterlibatan perempuan secara aktif dalam menentukan arah politik menjadi syarat mutlak.

Tanggal pembukaan Kongres Perempuan Indonesia pertama 22 Desember 1928, pada kongres ke tiga itu ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Perempuan. Pemerintahan Soekarno pada tahun 1959 menetapkan tanggal tersebut sebagai hari besar nasional (SK Presiden RI No. 316/1959), sebagai penghargaan terhadap kontribusi perempuan dalam perjuangan bangsa. Namun sayangnnya, perjalanan sejarah dan penghargaan yang diberikan oleh pemerintahan Soekarno telah didistorsi oleh kekuasaan Orde Baru. Makna peristiwa Kongres Perempuan Indonesi tahun 1928 telah dikerdilkan dengan sekedar memaknainya sebagai pengabdian perempuan, khususnya ibu, di ranah domestik. Oleh pemerintah Orde Baru perempuan kembali ‘dirumahkan’. Mekanisme ini berhasil menggeser pandangan sebagian besar masyarakat Indonesia. Tanggal 22 Desember diperingati hanya sebagai Hari Ibu, sebagai momen untuk mengucapkan terima kasih kepada perempuan-perempuan, kepada ibu yang telah mengabdikan diri sekedar dalam urusan sumur, dapur dan kasur!

Kesadaran dan semangat kaum perempuan Indonesia pada tahun 1928 sesungguhnya masih hidup hingga saat ini. Penelitian yang dilakukan Kalyanamitra, Juni-Agustus 2008, dengan responden kalangan bawah di wilayah DKI, menunjukkan masyarakat, khususnya para ibu, sangat mengharapkan politisi perempuan dapat menolong mereka ke luar dari jerat krisis ekonomi. Mereka sangat berharap politisi perempuan mampu memberi solusi untuk persoalan ekonomi, diantaranya terkait harga BBM, sembako dan biaya pendidikan untuk anak-anak. Artinya, masyarakat memahami bahwa persoalan bangsa saat ini juga membutuhkan dan menuntut kerja keras dan perjuangan perempuan di wilayah politik.

Sekelumit kisah perjuangan perempuan Sunda

Kartini dengan jelas menulis di catatan hariannya bahwa ia menginginkan kedinamisan perempuan Sunda. Konon dalam salah satu perjalanannya ke Bandung, ia bertemu dengan sejumlah perempuan Bandung dan menyaksikan “kebebasan” para perempuan Sunda –seraya ia mengandaikan diri “kalau saja saya menjadi perempuan yang terlahir di Bandung”. Semenjak lama, tanah Sunda rupanya telah memberikan “kebebasan” lebih kepada kaum perempuan ketimbang tanah lain. Entah karena sistem legenda Sunda meletakkan perempuan sebagai pusat cerita dan penyelesai masalah (seperti Purbasari Ayuwangi) atau memang telah tumbuh kesadaran masyarakat Sunda bahwa perempuan memang patut diberi ruang.

Menurut Nina Lubis —sejarawan dari Sastra Unpad, jika perjuangan emansipasi perempuan yang digelorakan R.A. Kartini hanya sebatas ide atau gagasan, Dewi Sartika justru dengan pelaksanaannya langsung. “Dewi Sartika mah jeung prakna. Ia benar-benar mendirikan insitusi pendidikan pertama bagi kaum perempuan di negeri ini. Tidak saja dengan pikiran dan tenaga, tetapi juga dengan biaya sendiri” katanya. Dewi Sartika adalah keturunan ménak dari Raden Rangga Somanagara dengan Raden Ayu Rajapermas yang dilahirkan 4 Desember 1884 di Bandung, yang juga merupakan keturunan Raden Aria Adipati Wiranatakusumah VI, cucu dari the founding father Bandung. Tujuh tahun setelah Uwi (panggilan Dewi Sartika) lahir, Rangga Somanagara dilantik menjadi Patih Bandung.

Sebut saja Mak Eroh, ia adalah perempuan Sunda yang “bertenaga dan bersemangat seribu lelaki”. Terdorong dari “spirit ibu-nya” yang harus memenuhi kebutuhan banyak pihak, ia membelah bukit, mengalirkan air kehidupan bagi sanak saudaranya. Dalam hal upaya menghadirkan air bagi kehidupan, Mak Eroh dapat dirujukkan pada perjuangan Siti Hajar yang mengalirkan Air Zamzam berdasar tanggung jawabnya.

Perempuan lain adalah Puni, namanya Tri Mumpuni (44 tahun), yang mengajari warga di belbagai pelosok Indonesia membuat listrik murah (mikrohidro). Bermula dari Desa Curugagung, Subang, Jawa Barat ia memulai pekerjaan tidak biasa, membuat listrik sendiri dengan berbekal air terjun kecil. Begitu mimpi itu berhasil, ia mengembara ke pelbagai pelosok negeri: menunggang kuda menembus hutan-hutan Sulawesi, di Toraja ia menyisir sungai-sungai kering serta perbukitan gamping rawan longsor, semuanya dilakukan untuk menyebar ideal yang sama “listrik bagi diri sendiri”. Tidak hanya itu,Puni pun diundang pemerintah Filipina, Kamerun, dan Nepal untuk membuka kemungkinan pembangunan mikrohidro.

Tak hanya Mak Eroh atau Teh Puni, perempuan Sunda yang lain pun benar-benar “bukan perempuan biasa”. Pada saat Bandung terkena serangan DBD, media ini pernah memuat perjuangan tiga orang Ibu rumah tangga yang masuk keluar rumah tetangga-tetangganya untuk memeriksa kolam –atau apapun yang menjadi tempat genangan air– seraya membersihkannya dari jentik nyamuk secara suka rela. Seraya mereka mengeluarkan filosofi, “satu rumah saja terkena DB, semua warga akan juga terkena, jadi jentik nyamuk di rumah siapapun menjadi tanggung jawab bersama”. Lalu ada juga perempuan dari Indramayu yang nekad telanjang bulat membentuk pagar hidup di batas desa untuk membendung serang desa tetangga dalam peristiwa rusuh antar desa –yang lazim di Indramayu. Lalu karena malu menemukan “ketelanjangan” dan mitos apesnya ilmu-ilmu kesaktian bila melihat “ketelanjangan” para penyerang desa itu bubar jalan dan tawuran teratasi.

Perjuangan seorang ibu bernama Inggit

Pagi hari ini kita berada di depan makam seorang perempuan yang luar biasa. Yang hanya dikenang sebagai perempuan yang mengongkosi rumah tangga dengan berjualan bedak sari pohaci dan rokok kolobot. Kita tidak pernah berpikir bahwa dari kerja kerasnya seorang lelaki bisa jadi Bapak Pendiri Bangsa. Lewat strateginya Bung Karno meski dalam penjara, mampu membeli Koran dapat membujuk penjaga untuk meminjamkan buku-buku di perpustakaan penjara. Buku-buku yang mengilhaminya untuk menulis pembelaan di pengadilan tahun 1930, pembelaan “Indonesia Menggugat.”

Inggit Garnasih, jelas perempuan luar biasa, dengan berani ia sembunyikan buku-buku di balik kebayanya untuk ia serahkan pada Bung Karno yang kala itu dipenjara. Inggit Garnasih telah berjuang tidak hanya untuk suami dan anak-anaknya. Inggit Garnasih berjuang untuk bangsa, untuk rakyat Indonesia.

Sehari setelah Bung Karno dimakamkan di Blitar, seorang wartawan mewawancarai Inggit Garnasih. “Apa yang ibu terima dari harta pusaka peninggalan Bapak?” Inggit menjawab, “Negara kita ini, untuk kita semua, untuk seluruh rakyat, dan untuk semua keturunan bangsa kita.”1

Kesemua cerita ini jadi bukti bahwa perempuan sesungguhnya memiliki dedikasi dan daya tahan untuk melakukan sesuatu yang ‘tidak biasa’. Persoalannya tinggal sedikit saja, apakah kita hendak membiarkan potensi ini menguap begitu saja atau menjadi modal untuk maju? Apakah kita, kaum perempuan hanya akan menangis merenungi penderitaan, kemiskinan, dan kesengsaraan. Apakah kita hanya akan berdiam diri menyaksikan ketidakadilan yang terus menerus terjadi di sekitar kita? Atau kita akan jadi bagian dari orang-orang yang terus berjuang menggoreskan makna dalam hidup, bukan untuk diri sendiri, bukan untuk keluarga sendiri, tapi untuk bangsa ini.

22 Desember 2008 tepat 80 tahun peringatan Kongres Perempuan Indonesia. Rasanya tak berlebihan jika perayaan kali ini mengembalikan arti dan makna tanggal tersebut. Memperingati tanggal 22 Desember adalah memperingati 80 tahun bangkitnya perempuan Indonesia melawan pemiskinan dan pembodohan! 22 Desermber adalah hari kembalinya hak dan kewajiban politik perempuan Indonesia! Saatnya Perempuan Berpolitik untuk Kesejahteraan Rakyat. Bangkit Perempuan Sunda, Bangun Perempuan Indonesia! Selamat Hari Kebangkitan Perempuan Indonesia!

*Penulis adalah Aktivis Perempuan, dan pengelola Yayasan Pitaloka.

Disampaikan pada peringatan 22 Desember

Di makam Inggit Ganarsih, TPU Porib, Caringin Kopo, Bandung

Tanggal 21 Desember 2008

1 Nuryanti, Reni : Istri-istri Sukarno, Penerbit Ombak 2007;71

Hari Terakhir di Good Morning

Desember 19th, 2008 by pitaloka

Hai semuanya… mohon maaf sudah lama nggak ngisi blog karena kesibukan. Tapi hari ini rasanya harus nulis blog karena ada moment yang sayang kalau tidak dibagi sama temen-temen blogger detik.

Hari ini hari adalah hari terakhir saya siaran di acara Good Morning setelah hampir 4 tahun setiap pagi jam 08.30 sampai dengan jam 09.30 saya menemani pemirsa trans tv. Keputusan untuk meninggalkan acara yang sangat saya cintai ini karena saya ingin serius di dunia politik.

Banyak kenangan selama saya membawakan acara Good Morning. Saya juga banyak belajar. Di acara itu mendekatkan saya dengan masyarakat karena mengangkat isu-isu keseharian yang membuat saya bertemu dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Karena program ini saya jadi rajin nonton berita dan baca koran. Sebagai presenter Good Morning saya diharuskan memberikan komentar atas peristiwa yang ter-update di negeri ini.

Yang membuat saya terharu karena di episode terkahir ini, ditayangakan bagaimana komentar penonton terhadap acara Good Morning dan juga tentang diri saya. Begitu banyak orang yang sangat sayang dan mendukung saya. Dan semua itu membuat saya tambah yakin akan serius ke dunia politik.

Dalam kesempatan ini, saya ucapkan terima kasih kepada partner saya yang baik, Ferdi Hasan yang selama ini dalam suka dan duka mempertahankan acara Good Morning. Terima kasih kepada bapak Chairul Tanjung, Ishadi, Wisnutama, Mas Shanta, Mas Gatot Mas Memed, yang telah memberikan kesempatan pada saya berkarir dan banyak belajar di trans TV.

Terima kasih kepada seluruh kru dari awal sampai akhir. Petugas kemananan, OB, pak Wid atas gorengannya yang sering saya utangin hehehehe… Petugas kebersihan lantai 3 Trans tv Fitri dan wulan.

Dan yang utama kepada penonton setia Good Morning. Tanpa alian pasti tidak akan bisa seperti ini. Karena ini adalah pilihan yang berat dalam hidup saya.

Dukung dan doakan saya agar bisa bekerja menjadi politis yang baik dan bermoral, tidak lupa kewajiban kepada masyarakat. Doain juga agar tidak sampai korupsi atau melakukan kebohongan publik.

Hamil Gara-gara Ngeblog?

September 12th, 2008 by pitaloka

rieke1.jpg

eh apa kabar neh? Aduh, maaf bgt ya, baru bisa nemuin temen2 sekarang, kemarin2 waktu lagi baru diajar ngeblog sama bang marwan dari detik, eh tau-taunya hamil. Udah tiga tahun terapi, alhamdulillah hamil juga, seneng tapi puyeng 2 terus, mabuk berat, jadi ngga bisa ngapa-ngapain (sst… jangan2 hamil gara2 ngeblog ya, tau gitu dari dulu deh nulis di blog) Btw thanks bgt buat yang udah singgah di blogku, kalau mau share atau curhat juga boleh, siapa tahu kalau temen2 ada masalah kita bisa cari solusi bareng2 Ngemeng-ngemeng soal aktivitasku skrg ini ngga terlalu banyak. Karena aku punya catatan medis yg kurang baik dgn kehamilan yg dulu, dokter bilang skrg harus lebih dijaga. Jadi udah deh habis siaran Good Morning lebih sering langsung pulang. Tapi di rumah juga tetep aja ngga bisa diam, sama stafku, aji, aku lagi buat buku tentang buruh migran, tapi lagi agak buntu nih… so kalau kamu2 punya info boleh dong kasih masukan, biar oonnya ngga kumat nih… he he he. Buku ini penting bgt, spy kita tahu lebih jelas ttg saudara2 kt yang jadi TKI (just info, dr Migrant Care, dr jan sampai april 08 kurang lebih 70 orang tewas krn kasus kekerasan, blm lagi yg baru2 ini terjadi di Hongkong) Terus kabar lainnya , nih buat kamu-kamu yg suka sama sinetron bajaj bajuri (sst tp jgn bilang2 ya he he he) kita lagi persiapan BAJAJ BAJURI THE MOVIE…. kl baca naskahnya sih lucu banget.. doain ya biar jadi shooting, kita pemainnya jg udah kangen pingin ngebajaj lagi kayanya untuk hari ini udah dulu ya, jgn lupa kalau mau curhat, mau ngobrol, atau punya info tentang buruh migran (TKI) ngga usah ragu2 kabarin aku… makasih utk waktu temen2, semoga diterima disisi Tuhan YME he he he

Siit Uncuwing

Juni 30th, 2008 by pitaloka

Setiap pagi bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari.

Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi, sungai-sungai keperakan. Bekelip menyilaukan. Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Ada jembatan di atasnya. Jalan raya tepatnya. Trotoar menjepit kiri kanan jalan.

Jalan itu dulu setiap hari dilewati Arum dan Nining. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. Dua setengah kilometer jauhnya dari rumah. Sangat pagi. Waktu membuka pintu, kabut berebut kecup pipi mereka. Satu dua kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Embun basahi sepatu sekolah.

Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Di bawah, air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Gairah sungai hanya tersirat dari kilauan berlian diriak air di antara bebatuan. Sungai itu memang selalu mengalun pelahan. Tapi orang-orang di kota kecil itu tahu, sungai itu bisa juga mendidih. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Menyapu apa saja yang dilalui. Dan itu bisa terjadi meski siang terik. Kalau sudah begitu orang-orang di tepi sungai, orang-orang di atas jembatan berseru, “caah caah caah!”

***

September.

Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Pada bulan yang sama, tiap tahun, langit kadang biru, kadang kelabu. Hujan malas berkunjung. Paling seminggu sekali. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri sungai itu. Bertahun-tahun selalu begitu. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di jembatan yang sama. Tak ada yang beda.

Rumah kedua gadis itu yang berubah. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Tak ada lagi berita dari Nining. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Ada foto dirinya, lebih kurus dibanding saat tinggalkan rumah. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Namun ia tetap berusaha tersenyum.

Kepergian Nining memang merubah banyak hal. Rumah tak lagi setengah bilik, semua diganti tembok. Cat tak lagi kusam. Lantai semen sudah ditambal keramik. Seng yang dulu berisik dan bocor kala hujan, diganti genting Jatiwangi. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. Akarnya setahun lalu dicabut diganti pondasi beton. Dahan dan batangnya dari besi tempa. Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi tempa, meski warnanya juga hijau.

***

Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. Sudah seminggu tak mampu bangun. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Saat itu takut hantui seisi rumah, apalagi waktu seekor burung berkicau dari pucuk daun kersen di halaman depan. Orang-orang menyebutnya siit uncuwing.

Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar.

Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin.

Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu.

Siit uncuwing pembawa kabar duka, begitu kepercayaan enin. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi.

Sieuh, sieuh, halig siah, pergi sana, pergi!”

Kali ini enin melempari dengan kerikil.

“Belum waktunya anakku kau jemput. Sieuh, sieuh, ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!”

Tetap saja burung itu tak mau pergi. Malah tampak riang. Lompat dari satu dahan ke dahan lain.

“Arum, Nining! Bantu Enin. Naik sana ke pohon kersen!” perintah ambu panik.

Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambar tubuh mungilnya. Ia terbang menuju lembayung.

***

Entah kebetulan atau bukan, esoknya abah mulai bisa duduk. Enin peluk buah hatinya dengan haru.

“Komar, cepat sehat, Komar.”

Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Ada seurai doa di sudut bibir ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining.

Tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. Waktu melihat ambu dengan sapu lidinya, siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Tak menapak di manapun. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Menjerit memanggil kematian. Lepas magrib burung itu menjauh dengan senyap. Tapi tangis ledakkan rumah. Sebab siit uncuwing pergi sambil membawa abah.

***

Enin dan ambu berhari-hari, bahkan hingga tahlil seribu hari, tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka.

Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. Terutama Nining. Baginya penyebab kematian abah bukan gara-gara siit uncuwing, tapi karena sakit. Sakit, tapi tak diobati. Tak diobati karena mereka tak ada uang buat berobat, walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Tapi sekadar sukarela pun mereka tak sanggup.

Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada enin dan ambu. Ia hanya katakan pada Arum. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.”

Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti.

Arum percaya Nining. Tapi enin tidak sepakat, terlebih ambu.

“Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalau pun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

Geulis,” enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “ biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijasah SMP dan raport sampai kelas satu SMA, tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan enin dan ambu. Bahkan ambu rela menjual sawah peninggalan abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus ongkos ke Bandung.

***

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah abah, katanya. Tiga bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping rumah.

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?”

“Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.”

Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan tak ada kabar berita darinya.

***

Awal Mei.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar enin dan ambu.

“Arum, bilang sama enin dan ambu, insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa munggah sama-sama. Teteh mau Lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga. Doakan teteh supaya bisa pulang.”

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang, sampai Arum hapal isinya.

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “nanti akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!”

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar, menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!”

Ambu tergopoh, enin menyusul di belakangnya.

Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan.

Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!”

Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah ambu. Ketika siit uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak dipinggir jembatan. Menuju sungai.

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai.

Arum mengendap.

Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai.

Hayu pulang, geulis.”

Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, Dan semua jadi gelap.

***

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada enin dan ambu yang sedang menangis.

Arum lari ke luar.

Di langit ada bulan sepotong.

Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum.

Di surau-surau takbir pertama berkumandang…

Depok, 160907

enin : nenek

ambu : ibu

abah : abah

teteh : kakak perempuan

kalangkang : bayangan

anaking : anakku

incu : cucu

sorangan : sendiri

munggah : menyambut hari pertama puasa Ramadhan

indit : pergi

ka ditu : ke sana

ka dieu : ke sini

sieuh : ujaran untuk mengusir ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu: ke seberang ke Palembang, satu guru satu ilmu tidak boleh ganggu (mantra pengusir roh jahat dan hal-hal buruk)

Lintang

Juni 9th, 2008 by pitaloka

Mengenang perempuan itu ibarat menonton cukilan-cukilan adegan yang diam-diam menyatu dalam sebuah film. Wajahnya seperti embun, matanya bening. Bibir mungilnya selalu tersenyum membuat setiap orang yang bertemu ingin menyapa. Ia seorang perempuan yang merancang sendiri kehidupannya. Sejak remaja ditentukannya apa yang akan ia lakukan, kapan akan menikah, dengan laki-laki seperti apa, akan punya anak berapa, seperti apa akan membesarkan mereka, itu semua sudah ia pikirkan. Perempuan itu menggoreskan sendiri takdirnya.

Saat berusia dua puluh tahun ia jadi ibu dari dua orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki. Sebuah peristiwa telah merubah impiannya, jadi mimpi menyeramkan. Sekolah tempat ia bekerja dibakar. Ayah dan suaminya menghilang entah ke mana. Tinggal lah ia bersama ibu, delapan adik dan dua orang anak di rumah masa kecilnya. Tak ada yang mau mendekati rumah itu. Beberapa orang bahkan melempari temboknya dengan tinja. Siang hari hanya mereka yang bersepatu lars sesekali terlihat ke luar masuk. Malam hari rumah itu bagai bayangan besar yang pekat, gelap, tak ada terang setitik pun. Pintu dan jendelanya tetap terbuka. Engsel-engselnya menjerit saat angin menyentuh. Tapi perempuan itu tahu kadang ada nafas-nafas lain selain ia, ibu, adik dan anaknya. Mereka, gerombolan bersarung yang siap menggasak apa saja, termasuk nyawa sekali pun. Menurut kabar, mereka telah penggal beratus, bahkan beribu kepala manusia di sepanjang Kali Brantas. Karena itu, setiap kali mereka datang, malam pun jadi sesak. Perempuan itu bersama ibunya akan berjaga-jaga dibalik pintu kamar sambil berdoa. Saat semburat pertama mengembang di ufuk timur, perempuan itu menghitung tubuh-tubuh yang berjejal di kolong dipan.

“Delapan, lengkap!”

Anak perempuannya lelap di dekapan ibunya yang pulas di sudut kamar.

“Lengkap….”

Ia pun tertidur sambil memeluk anak laki-lakinya.

****

Tahun hampir berujung, namun satu interogasi ke interogasi lain seolah tiada akhir . Awalnya perempuan itu menggigil saat pertama kali digiring ke markas. Kali ketiga ia mulai terbiasa, bahkan ia sudah bisa tersenyum saat menjawab pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang sama, yang ia jawab dengan jawaban yang juga selalu sama: tidak tahu! Ia memang sungguh tak tahu di mana ayah dan suaminya berada. Tapi ia sudah tahu takdir kedua lelaki itu, mereka tak mati, tak boleh mati. Dan, ia putuskan untuk melukis pencarian di setiap jengkal kota.

Perempuan itu tahu pasti ayah dan suaminya tak mati. Detak jantung kedua lelaki itu terus memanggil-manggil, mengajaknya melangkah ke penjara Tangerang. Di halamannya yang kering, keduanya hampir tak bisa dibedakan dengan ratusan lelaki lain yang sedang berdiri dalam barisan, kurus dan kumal. Sejak itu, setiap minggu senyum perempuan itu jadi penguat bagi mereka untuk tetap memberi jawaban yang sama pada petugas: tidak tahu!

Satu tahun sudah peristiwa itu berlalu. Perempuan itu masih tinggal di rumah masa kecilnya. Tetap saja, hanya mereka yang bersepatu lars yang datang. Satu adik perempuannya memilih kawin dengan kepala gerombolan yang dulu acapkali porak porandakan rumah. Hal itu sedikit membawa perubahan, tak ada lagi tamu yang merusak malam. Sisanya tak berubah, teman atau kerabat sama saja, membuang muka saat berpapasan. Penghuni rumah itu dianggap petaka. Orang-orang tahu, seribu mata-mata memasang mata dan telinga untuk menangkap siapa pun yang dianggap mengenal mereka.

Nyanyian jangkrik mengurai sepi. Sepi pun porak bagai kaca pecah ketika anak perempuannya berteriak dari beranda belakang.

“Bapak pulang! Bapak pulang!”

“Suruh anakmu diam!” perintah ibunya panik.

Perempuan itu setengah berlari menghampiri anaknya yang sedang bermain.

“Buu, Bapak pulang!”

“Sst, Maya jangan begitu, diam sayang, nanti dikira orang betul Bapakmu pulang….”

Sosok tipis menghampiri perempuan itu. Tak percaya ia tatap tubuh dibalik caping petani yang tutupi tirus pasi .

“Ini aku.”

Perempuan itu lepaskan bekapan di mulut anaknya. Ia peluk lelaki di hadapannya. Dua bulir basahi dada kerontang lelaki itu.

“Bapak bagaimana?”

“Bapak masih di sana. Mereka melepaskanku karena disentri yang semakin parah. Aku disuruh pergi, sebelum mati di penjara.”

Tak ada lagi kata-kata, malam pun berlalu dengan lengang yang tak berbeda. Senyum perempuan itu butakan mata, tulikan telinga para mata-mata. Berhari seperti itu, seolah tak ada yang berarti terjadi. Tak ada yang tahu, bahkan ketika mereka tinggalkan rumah itu, tinggalkan Jakarta.

“Lintang, ajak Suryo pergi dari sini, Ibu sudah siapkan semuanya. Pergilah kalian ke tempat Mang Golibi. Geura indit, geulis, bawa Maya, biar Ibu yang urus Teguh.”

Sebuah kota yang diselimuti kabut menyambut mereka. Tak ada rasa takut sedikit pun di hati perempuan itu. Sekali lagi, ia tentukan takdirnya. Ia akan bertahan bersama suami dan anak perempuannya. Mereka bertiga tak boleh mati!

Mang Golibi, saudara jauh ibunnya, mengantar mereka ke sebuah pondok pesantren. Pemiliknya, Kyai Hanafi, memberikan pengharapan. Tak ada tatap menyelidik, tuturnya sisipkan hangat.

“Ulah asa-asa, anggap saja di rumah sendiri.”

Tapi, Mang Golibi ingatkan mereka untuk tetap tajamkan rasa.

“Sama saja, di dieu oge banyak yang dibui, banyak juga yang dibuang ka pulo, yang mati juga banyak, yang hilang komo deui”
Meski dipagari gunung, tak urung kebencian yang sama mengalir sampai ke dusun-dusun terpencil. Perempuan itu tahu, tak ada pilihan, si kecil pun harus dibiasakan dengan panggilan baru, mengingat nama baru ayah dan ibunya, dan tentu saja tak boleh bercerita tentang kakek neneknya pada orang lain. Perempuan itu sadar, jika ingin hidup, tak ada pilihan, mereka harus kubur semua riwayat.

Tak ada yang berubah dalam diri perempuan itu, walau hari kadang menggigit. Ia tetap berikan senyum pada suaminya yang berubah jadi pemarah, yang sering tanpa sebab, memakinya atau merusak perabotan rumah atau meleleh dalam takut yang sangat. Lelaki itu acapkali terbangun tengah malam ketika sepeda motor melintas di depan rumah. Bukan sekali lelaki itu tiba-tiba lunglai saat mendengar derap kaki orang di dekat rumah.

“Mereka datang, mereka datang. Habis lah aku, habis lah kita!”

Kalau sudah begitu, perempuan itu akan berikan dekapan hangat, mengusap-usap punggungnya, menenangkannya, hingga lelaki itu kembali bermimpi di bawah elusan senyumnya. Senyum yang sama yang ia berikan saat bumi menjemput hari. Senyum yang sama yang ia bagikan pada waktu yang terus berjalan. Ia pun terus merajut hari dengan kesabaran. Kesabaran yang membalut nyeri di hati suaminya, hingga lelaki itu perlahan mulai bisa pijakkan kaki di bumi.

Begitulah hari merambat. Terkadang hari berjinjit sambil sematkan kabar di pucuk atap. Ibu, dua adik, dan anak lelakinya sudah tak lagi di Jakarta. Adik-adiknya yang lain tinggal berpencar, jadi pembantu di rumah kerabat. Hanya dua orang adik lelaki dan satu orang adik perempuan yang masih tinggal di rumah yang sama. Bapak masih ditahan, entah kapan akan pulang, tak tahu kapan bisa bertemu. Surat terakhir mengatakan, Bapak dipindah ke Salemba. Sementara satu orang paman jadi penghuni pulau di timur.

****

Aku tak pernah bisa berhenti mengenang perempuan itu. Semua cerita tentangnya kukumpulkan remah demi remah. Aku bahkan sengaja mewawancarai orang-orang yang pernah kenal, atau sekedar tahu dirinya. Perempuan itu hidup dalam hidupku. Sebagian kisahnya hidup dalam hidupku.

Orang pasti berpikir perempuan itu karang yang bergeming saat gelombang pasang, tapi tidak bagiku. Aku tahu pasti saat senyumnya luluh ketika pedih terlalu tajam. Tak jarang ia ingin bunuh hari saat hadapi trauma suaminya. Di saat seperti itu biasanya ia kemasi barang-barangnya. Aku masih ingat bagaimana perempuan itu mengangkat kopor tua berwarna coklat muda pudar. Sebungkus air mata disembunyikan di bawah senyumnya. Saat itu aku pikir ia akan tinggalkan suaminya dan akan mengajakku kembali ke rumah masa kecilnya. Tapi ternyata ia hanya ingin titipkan pedih pada sebuah makam yang tak jauh dari rumah. Perempuan itu percaya kematian bisa dengarkan kehidupan.

“Aku tak tahu makam siapa ini,” katanya menjawab pertanyaanku, “yang pasti, saat kita mencium wewangian, kita bisa mengadu pada jasad di bawah sana.”

Ia punguti kembang kemboja yang berjatuhan di sekitar makam, lalu ditaruhnya di atas makam itu, lalu lanjutkan kata-katanya.

“Aku sangat ingin bertemu ayah, ibu, dan adik-adikku. Aku juga ingin menimang anak lelakiku. Putingku masih merasa berdosa karena tingggalkan bibirnya. Kau tahu, aku ingin ada seorang yang bisa dengarkan diriku. Tapi, pada siapa aku bisa bicara, jika tak seorang pun tahu diriku, tak seorang pun tahu namaku.”

Telaga menggenang di kedua matanya, perlahan menetes jadi gerimis yang perih. Saat itu untuk pertama kali aku mengerti arti pedih.

Mengenang perempuan itu ibarat menonton cukilan-cukilan adegan. Masih jelas tergambar saat ia menghitung untung barang-barang yang dikreditkannya pada orang-orang kampung. Masih kuingat saat ia ajari masukan jamu godokan, racikannya sendiri, ke dalam botol-botol bekas sirup. Saat itu satu botol harganya limaratus rupiah. Aku tak akan lupa hari-hari yang dilewati perempuan itu. Hari ketika seorang tamu datang dan menangis sambil memeluknya.

“Ternyata Zus masih hidup.”

Seperti biasa perempuan itu berikan senyumnya. Senyum yang sama yang diberikannya padaku saat kutanya mengapa aku harus memanggil Kyai Hanafi kakek, padahal aku tahu dia bukan kakekku. Senyum yang sama juga diberikannya padaku saat kutanya mengapa ia tak lagi memanggilku Maya.

Senyum perempuan itu memang tak pernah berubah, sama, tetap sama. Senyum yang sama yang diberikannya padaku saat kusibak kafan dan kubisikkan kata:

“Akan kutulis di nisanmu namamu, namamu yang sesungguhnya, Lintang, biar mereka tahu siapa dirimu, siapa kita sebenarnya. Selamat jalan, Bunda!”