Jun 30 2008

pitaloka

Siit Uncuwing

Filed under cerpen

Setiap pagi bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari.

Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi, sungai-sungai keperakan. Bekelip menyilaukan. Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Ada jembatan di atasnya. Jalan raya tepatnya. Trotoar menjepit kiri kanan jalan.

Jalan itu dulu setiap hari dilewati Arum dan Nining. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. Dua setengah kilometer jauhnya dari rumah. Sangat pagi. Waktu membuka pintu, kabut berebut kecup pipi mereka. Satu dua kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Embun basahi sepatu sekolah.

Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Di bawah, air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Gairah sungai hanya tersirat dari kilauan berlian diriak air di antara bebatuan. Sungai itu memang selalu mengalun pelahan. Tapi orang-orang di kota kecil itu tahu, sungai itu bisa juga mendidih. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Menyapu apa saja yang dilalui. Dan itu bisa terjadi meski siang terik. Kalau sudah begitu orang-orang di tepi sungai, orang-orang di atas jembatan berseru, “caah caah caah!”

***

September.

Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Pada bulan yang sama, tiap tahun, langit kadang biru, kadang kelabu. Hujan malas berkunjung. Paling seminggu sekali. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri sungai itu. Bertahun-tahun selalu begitu. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di jembatan yang sama. Tak ada yang beda.

Rumah kedua gadis itu yang berubah. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Tak ada lagi berita dari Nining. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Ada foto dirinya, lebih kurus dibanding saat tinggalkan rumah. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Namun ia tetap berusaha tersenyum.

Kepergian Nining memang merubah banyak hal. Rumah tak lagi setengah bilik, semua diganti tembok. Cat tak lagi kusam. Lantai semen sudah ditambal keramik. Seng yang dulu berisik dan bocor kala hujan, diganti genting Jatiwangi. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. Akarnya setahun lalu dicabut diganti pondasi beton. Dahan dan batangnya dari besi tempa. Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi tempa, meski warnanya juga hijau.

***

Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. Sudah seminggu tak mampu bangun. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Saat itu takut hantui seisi rumah, apalagi waktu seekor burung berkicau dari pucuk daun kersen di halaman depan. Orang-orang menyebutnya siit uncuwing.

Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar.

Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin.

Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu.

Siit uncuwing pembawa kabar duka, begitu kepercayaan enin. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi.

Sieuh, sieuh, halig siah, pergi sana, pergi!”

Kali ini enin melempari dengan kerikil.

“Belum waktunya anakku kau jemput. Sieuh, sieuh, ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!”

Tetap saja burung itu tak mau pergi. Malah tampak riang. Lompat dari satu dahan ke dahan lain.

“Arum, Nining! Bantu Enin. Naik sana ke pohon kersen!” perintah ambu panik.

Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambar tubuh mungilnya. Ia terbang menuju lembayung.

***

Entah kebetulan atau bukan, esoknya abah mulai bisa duduk. Enin peluk buah hatinya dengan haru.

“Komar, cepat sehat, Komar.”

Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Ada seurai doa di sudut bibir ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining.

Tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. Waktu melihat ambu dengan sapu lidinya, siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Tak menapak di manapun. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Menjerit memanggil kematian. Lepas magrib burung itu menjauh dengan senyap. Tapi tangis ledakkan rumah. Sebab siit uncuwing pergi sambil membawa abah.

***

Enin dan ambu berhari-hari, bahkan hingga tahlil seribu hari, tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka.

Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. Terutama Nining. Baginya penyebab kematian abah bukan gara-gara siit uncuwing, tapi karena sakit. Sakit, tapi tak diobati. Tak diobati karena mereka tak ada uang buat berobat, walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Tapi sekadar sukarela pun mereka tak sanggup.

Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada enin dan ambu. Ia hanya katakan pada Arum. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.”

Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti.

Arum percaya Nining. Tapi enin tidak sepakat, terlebih ambu.

“Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalau pun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

Geulis,” enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “ biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijasah SMP dan raport sampai kelas satu SMA, tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan enin dan ambu. Bahkan ambu rela menjual sawah peninggalan abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus ongkos ke Bandung.

***

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah abah, katanya. Tiga bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping rumah.

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?”

“Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.”

Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan tak ada kabar berita darinya.

***

Awal Mei.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar enin dan ambu.

“Arum, bilang sama enin dan ambu, insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa munggah sama-sama. Teteh mau Lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga. Doakan teteh supaya bisa pulang.”

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang, sampai Arum hapal isinya.

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “nanti akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!”

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar, menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!”

Ambu tergopoh, enin menyusul di belakangnya.

Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan.

Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!”

Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah ambu. Ketika siit uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak dipinggir jembatan. Menuju sungai.

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai.

Arum mengendap.

Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai.

Hayu pulang, geulis.”

Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, Dan semua jadi gelap.

***

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada enin dan ambu yang sedang menangis.

Arum lari ke luar.

Di langit ada bulan sepotong.

Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum.

Di surau-surau takbir pertama berkumandang…

Depok, 160907

enin : nenek

ambu : ibu

abah : abah

teteh : kakak perempuan

kalangkang : bayangan

anaking : anakku

incu : cucu

sorangan : sendiri

munggah : menyambut hari pertama puasa Ramadhan

indit : pergi

ka ditu : ke sana

ka dieu : ke sini

sieuh : ujaran untuk mengusir ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu: ke seberang ke Palembang, satu guru satu ilmu tidak boleh ganggu (mantra pengusir roh jahat dan hal-hal buruk)

No responses yet

Jun 09 2008

pitaloka

Lintang

Filed under cerpen

 

Mengenang perempuan itu ibarat menonton cukilan-cukilan adegan yang diam-diam menyatu dalam sebuah film. Wajahnya seperti embun, matanya bening. Bibir mungilnya selalu tersenyum membuat setiap orang yang bertemu ingin menyapa. Ia seorang perempuan yang merancang sendiri kehidupannya. Sejak remaja ditentukannya apa yang akan ia lakukan, kapan akan menikah, dengan laki-laki seperti apa, akan punya anak berapa, seperti apa akan membesarkan mereka, itu semua sudah ia pikirkan. Perempuan itu menggoreskan sendiri takdirnya.

Saat berusia dua puluh tahun ia jadi ibu dari dua orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki. Sebuah peristiwa telah merubah impiannya, jadi mimpi menyeramkan. Sekolah tempat ia bekerja dibakar. Ayah dan suaminya menghilang entah ke mana. Tinggal lah ia bersama ibu, delapan adik dan dua orang anak di rumah masa kecilnya. Tak ada yang mau mendekati rumah itu. Beberapa orang bahkan melempari temboknya dengan tinja. Siang hari hanya mereka yang bersepatu lars sesekali terlihat ke luar masuk. Malam hari rumah itu bagai bayangan besar yang pekat, gelap, tak ada terang setitik pun. Pintu dan jendelanya tetap terbuka. Engsel-engselnya menjerit saat angin menyentuh. Tapi perempuan itu tahu kadang ada nafas-nafas lain selain ia, ibu, adik dan anaknya. Mereka, gerombolan bersarung yang siap menggasak apa saja, termasuk nyawa sekali pun. Menurut kabar, mereka telah penggal beratus, bahkan beribu kepala manusia di sepanjang Kali Brantas. Karena itu, setiap kali mereka datang, malam pun jadi sesak. Perempuan itu bersama ibunya akan berjaga-jaga dibalik pintu kamar sambil berdoa. Saat semburat pertama mengembang di ufuk timur, perempuan itu menghitung tubuh-tubuh yang berjejal di kolong dipan.

Delapan, lengkap!”

Anak perempuannya lelap di dekapan ibunya yang pulas di sudut kamar.

Lengkap….”

Ia pun tertidur sambil memeluk anak laki-lakinya.

****

Tahun hampir berujung, namun satu interogasi ke interogasi lain seolah tiada akhir . Awalnya perempuan itu menggigil saat pertama kali digiring ke markas. Kali ketiga ia mulai terbiasa, bahkan ia sudah bisa tersenyum saat menjawab pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang sama, yang ia jawab dengan jawaban yang juga selalu sama: tidak tahu! Ia memang sungguh tak tahu di mana ayah dan suaminya berada. Tapi ia sudah tahu takdir kedua lelaki itu, mereka tak mati, tak boleh mati. Dan, ia putuskan untuk melukis pencarian di setiap jengkal kota.

Perempuan itu tahu pasti ayah dan suaminya tak mati. Detak jantung kedua lelaki itu terus memanggil-manggil, mengajaknya melangkah ke penjara Tangerang. Di halamannya yang kering, keduanya hampir tak bisa dibedakan dengan ratusan lelaki lain yang sedang berdiri dalam barisan, kurus dan kumal. Sejak itu, setiap minggu senyum perempuan itu jadi penguat bagi mereka untuk tetap memberi jawaban yang sama pada petugas: tidak tahu!

Satu tahun sudah peristiwa itu berlalu. Perempuan itu masih tinggal di rumah masa kecilnya. Tetap saja, hanya mereka yang bersepatu lars yang datang. Satu adik perempuannya memilih kawin dengan kepala gerombolan yang dulu acapkali porak porandakan rumah. Hal itu sedikit membawa perubahan, tak ada lagi tamu yang merusak malam. Sisanya tak berubah, teman atau kerabat sama saja, membuang muka saat berpapasan. Penghuni rumah itu dianggap petaka. Orang-orang tahu, seribu mata-mata memasang mata dan telinga untuk menangkap siapa pun yang dianggap mengenal mereka.

Nyanyian jangkrik mengurai sepi. Sepi pun porak bagai kaca pecah ketika anak perempuannya berteriak dari beranda belakang.

Bapak pulang! Bapak pulang!”

Suruh anakmu diam!” perintah ibunya panik.

Perempuan itu setengah berlari menghampiri anaknya yang sedang bermain.

Buu, Bapak pulang!”

Sst, Maya jangan begitu, diam sayang, nanti dikira orang betul Bapakmu pulang….”

Sosok tipis menghampiri perempuan itu. Tak percaya ia tatap tubuh dibalik caping petani yang tutupi tirus pasi .

Ini aku.”

Perempuan itu lepaskan bekapan di mulut anaknya. Ia peluk lelaki di hadapannya. Dua bulir basahi dada kerontang lelaki itu.

Bapak bagaimana?”

Bapak masih di sana. Mereka melepaskanku karena disentri yang semakin parah. Aku disuruh pergi, sebelum mati di penjara.”

Tak ada lagi kata-kata, malam pun berlalu dengan lengang yang tak berbeda. Senyum perempuan itu butakan mata, tulikan telinga para mata-mata. Berhari seperti itu, seolah tak ada yang berarti terjadi. Tak ada yang tahu, bahkan ketika mereka tinggalkan rumah itu, tinggalkan Jakarta.

Lintang, ajak Suryo pergi dari sini, Ibu sudah siapkan semuanya. Pergilah kalian ke tempat Mang Golibi. Geura indit, geulis, bawa Maya, biar Ibu yang urus Teguh.”

Sebuah kota yang diselimuti kabut menyambut mereka. Tak ada rasa takut sedikit pun di hati perempuan itu. Sekali lagi, ia tentukan takdirnya. Ia akan bertahan bersama suami dan anak perempuannya. Mereka bertiga tak boleh mati!

Mang Golibi, saudara jauh ibunnya, mengantar mereka ke sebuah pondok pesantren. Pemiliknya, Kyai Hanafi, memberikan pengharapan. Tak ada tatap menyelidik, tuturnya sisipkan hangat.

Ulah asa-asa, anggap saja di rumah sendiri.”

Tapi, Mang Golibi ingatkan mereka untuk tetap tajamkan rasa.

Sama saja, di dieu oge banyak yang dibui, banyak juga yang dibuang ka pulo, yang mati juga banyak, yang hilang komo deui

Meski dipagari gunung, tak urung kebencian yang sama mengalir sampai ke dusun-dusun terpencil. Perempuan itu tahu, tak ada pilihan, si kecil pun harus dibiasakan dengan panggilan baru, mengingat nama baru ayah dan ibunya, dan tentu saja tak boleh bercerita tentang kakek neneknya pada orang lain. Perempuan itu sadar, jika ingin hidup, tak ada pilihan, mereka harus kubur semua riwayat.

Tak ada yang berubah dalam diri perempuan itu, walau hari kadang menggigit. Ia tetap berikan senyum pada suaminya yang berubah jadi pemarah, yang sering tanpa sebab, memakinya atau merusak perabotan rumah atau meleleh dalam takut yang sangat. Lelaki itu acapkali terbangun tengah malam ketika sepeda motor melintas di depan rumah. Bukan sekali lelaki itu tiba-tiba lunglai saat mendengar derap kaki orang di dekat rumah.

Mereka datang, mereka datang. Habis lah aku, habis lah kita!”

Kalau sudah begitu, perempuan itu akan berikan dekapan hangat, mengusap-usap punggungnya, menenangkannya, hingga lelaki itu kembali bermimpi di bawah elusan senyumnya. Senyum yang sama yang ia berikan saat bumi menjemput hari. Senyum yang sama yang ia bagikan pada waktu yang terus berjalan. Ia pun terus merajut hari dengan kesabaran. Kesabaran yang membalut nyeri di hati suaminya, hingga lelaki itu perlahan mulai bisa pijakkan kaki di bumi.

Begitulah hari merambat. Terkadang hari berjinjit sambil sematkan kabar di pucuk atap. Ibu, dua adik, dan anak lelakinya sudah tak lagi di Jakarta. Adik-adiknya yang lain tinggal berpencar, jadi pembantu di rumah kerabat. Hanya dua orang adik lelaki dan satu orang adik perempuan yang masih tinggal di rumah yang sama. Bapak masih ditahan, entah kapan akan pulang, tak tahu kapan bisa bertemu. Surat terakhir mengatakan, Bapak dipindah ke Salemba. Sementara satu orang paman jadi penghuni pulau di timur.

****

Aku tak pernah bisa berhenti mengenang perempuan itu. Semua cerita tentangnya kukumpulkan remah demi remah. Aku bahkan sengaja mewawancarai orang-orang yang pernah kenal, atau sekedar tahu dirinya. Perempuan itu hidup dalam hidupku. Sebagian kisahnya hidup dalam hidupku.

Orang pasti berpikir perempuan itu karang yang bergeming saat gelombang pasang, tapi tidak bagiku. Aku tahu pasti saat senyumnya luluh ketika pedih terlalu tajam. Tak jarang ia ingin bunuh hari saat hadapi trauma suaminya. Di saat seperti itu biasanya ia kemasi barang-barangnya. Aku masih ingat bagaimana perempuan itu mengangkat kopor tua berwarna coklat muda pudar. Sebungkus air mata disembunyikan di bawah senyumnya. Saat itu aku pikir ia akan tinggalkan suaminya dan akan mengajakku kembali ke rumah masa kecilnya. Tapi ternyata ia hanya ingin titipkan pedih pada sebuah makam yang tak jauh dari rumah. Perempuan itu percaya kematian bisa dengarkan kehidupan.

Aku tak tahu makam siapa ini,” katanya menjawab pertanyaanku, “yang pasti, saat kita mencium wewangian, kita bisa mengadu pada jasad di bawah sana.”

Ia punguti kembang kemboja yang berjatuhan di sekitar makam, lalu ditaruhnya di atas makam itu, lalu lanjutkan kata-katanya.

Aku sangat ingin bertemu ayah, ibu, dan adik-adikku. Aku juga ingin menimang anak lelakiku. Putingku masih merasa berdosa karena tingggalkan bibirnya. Kau tahu, aku ingin ada seorang yang bisa dengarkan diriku. Tapi, pada siapa aku bisa bicara, jika tak seorang pun tahu diriku, tak seorang pun tahu namaku.”

Telaga menggenang di kedua matanya, perlahan menetes jadi gerimis yang perih. Saat itu untuk pertama kali aku mengerti arti pedih.

Mengenang perempuan itu ibarat menonton cukilan-cukilan adegan. Masih jelas tergambar saat ia menghitung untung barang-barang yang dikreditkannya pada orang-orang kampung. Masih kuingat saat ia ajari masukan jamu godokan, racikannya sendiri, ke dalam botol-botol bekas sirup. Saat itu satu botol harganya limaratus rupiah. Aku tak akan lupa hari-hari yang dilewati perempuan itu. Hari ketika seorang tamu datang dan menangis sambil memeluknya.

Ternyata Zus masih hidup.”

Seperti biasa perempuan itu berikan senyumnya. Senyum yang sama yang diberikannya padaku saat kutanya mengapa aku harus memanggil Kyai Hanafi kakek, padahal aku tahu dia bukan kakekku. Senyum yang sama juga diberikannya padaku saat kutanya mengapa ia tak lagi memanggilku Maya.

Senyum perempuan itu memang tak pernah berubah, sama, tetap sama. Senyum yang sama yang diberikannya padaku saat kusibak kafan dan kubisikkan kata:

Akan kutulis di nisanmu namamu, namamu yang sesungguhnya, Lintang, biar mereka tahu siapa dirimu, siapa kita sebenarnya. Selamat jalan, Bunda!”

No responses yet

Jun 09 2008

pitaloka

Menakar Harga Perempuan

Filed under Suara Rieke

Konon orang-orang Gunungkidul melihat pulung gantung beberapa hari sebelum bencana gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta. Sebentuk sasmita alam dalam wujud bola cahaya sebesar batok kepala berwarna biru kemerahan melayang-layang di angkasa. Sejak lama orang-orang Gunungkidul percaya pulung gantung sebagai pertanda musibah maha-dahsyat bakal tiba. Percaya atau tidak, banyak yang mati gantung diri setelah menyaksikan firasat gaib itu. Sejumlah penelitian perihal kecenderungan bunuh diri di Gunungkidul kerap dihubungkaitkan dengan mitos pulung gantung. Mereka memilih mati lebih dulu, sebelum petaka itu datang, toh nanti juga bakal mati.Begitulah jalan aman yang ditempuh ayah Tini seperti dikisahkan novel Harga Seorang Wanita (2006) yang saya baca beberapa bulan lalu. Suatu malam, ayah Tini melihat pulung gantung meluncur dari langit dan jatuh di atap rumahnya. Esok pagi orang-orang Desa Wiloso menemukan mayat lelaki itu menggantung di dahan pohon jati, tak jauh dari rumahnya. Tak lama berselang, bala yang mereka takutkan sunggguh-sungguh tiba: Desa Wiloso terancam kelaparan. Panen gagal, wabah busung lapar berjangkit, kemarau berkepanjangan, sawah ladang retak-rengkah, sapi dan kambing kurus kering karena rumput sukar didapat. Orang-orang terpaksa makan tiwul. Tapi, bagi Simbok, itu bukan salah pulung gantung, bukan pula salah alam Gunungkidul yang tak ramah, melainkan sudah pepesthen, kepastian yang tak bisa dielakkan. Miskin, lapar, makan tiwul, dan bunuh diri adalah takdir. Menjanda setelah kematian suami juga takdir.

Di saat para pengarang kita sibuk membungkus cerita dengan aneka kemasan yang mengkilat, kinclong, sedap dipandang mata (tapi abai isi), pengarang buku itu justru mencibirkan segala macam permainan bentuk yang mengasyikkan itu. Ia justru menukik di kedalaman sumur kemelaratan di dusun-dusun Gunungkidul. Tengoklah peruntungan Simbok! Tersebab miskin, suaminya nekat gantung diri (meski dengan dalih pulung gantung). Karena miskin, Simbok jadi gundik pamong desa (Wirono), jadi babu dan pemuas berahi Bendoro. Wajah ayunya jadi bopeng, remuk tak berbentuk. Disiram air panas oleh Raden Sunartijah (istri Bendoro) saat tertangkap basah sedang mengeroki Bendoro.

Namun, pulung gantung tak pernah enyah dari hidup Simbok. Lagi-lagi bola cahaya biru kemerahan itu meluncur dari langit, jatuh di atap usang rumah gedeknya. Kali ini firasat perihal bala yang bakal menimpa Tini, anak perempuan satu-satunya. Simbok gelisah sejak Tini mohon izin untuk bekerja di Yogya. Dalam terawang batin Simbok, pesakitan Tini tinggal menunggu hari. Cepat atau lambat kembang desa Wiloso itu bakal ditimpa nestapa sebagaimana disasmitakan pulung gantung. Pelan-pelan terkuak juga rasa penasaran Simbok perihal Tini yang tiba-tiba ingin meninggalkan Gunungkidul. Benar! Ternyata niat merantau bukan kemauan Tini. Perempuan beranak satu itu tergadai pada Parman, juragan panti pijat di kawasan Gedongkuning. Ini ulah Jono, suami Tini. Jono harus menebus sepetak ladang yang tergadai. Bila tidak lekas ditebus, ladang akan berpindah tangan. Parman tak keberatan meminjamkan uang 10 juta rupiah, dengan syarat Tini harus bekerja di Griya Pijat Nikmat selama 5 tahun. Apa boleh buat, bagi Tini, ketergadaian tubuh dan dirinya itu mungkin sudah suratan, sebagaimana takdir Jono yang harus rela istrinya jadi sundal.

Sejak itu Tini bukan gadis desa yang lugu dan pemalu lagi. Ia berubah jadi perempuan pemberani. Tak gamang lagi bila berhadapan dengan laki-laki. Tini makin telaten memijat, makin piawai memuaskan hasrat menggebubung para lelaki hidung belang. Pelajaran pertama Tini di panti pijat itu adalah merelakan tubuhnya diperkosa Parman. Perempuan paling ayu di Desa Wiloso itu sama sekali tidak memberikan perlawanan saat tangan kasar Parman menerkam pinggang langsingnya.Untuk apa? Lambat laun tetap saja akan diperkosa. Jadi, dibiarkannya Parman melunaskan dendam masa lalu. Sebelum dipersunting Jono, Parman pernah datang ke Wiloso. Ia hendak memperistri Tini, tapi perempuan itu dalam genggaman Jono.

Berapakah takaran “harga” perempuan yang ditawarkan novel itu? Menimbang kebejatan Wirono, Bendoro, Jono, Parman, atau Andi yang meski berkenan menyelamatkan Tini (tapi menolak komitmen pernikahan), “jangan-jangan” tidak ada takaran harga bagi perempuan. Harga Simbok dan Tini hanya tergantung bagaimana para lelaki memperlakukannya. Seamsal barang rongsokan, tergantung bagaimana pengguna mengukur manfaatnya. Tak ada takaran harga pasti. Agaknya, di sinilah pentingnya realitas keterpurukan Simbok, Tini, dan Murti (anak perempuan Tini dari perkawinannya dengan Jono) yang digambarkan pengarang dengan cara bertutur bersahaja. Nestapa Tini seperti mendaur ulang luka lama Simbok. Bedanya, Tini bukan perempuan yang nrimo. Baginya, ketertindasan itu bukan karena pulung gantung (Tini bahkan tak percaya mitos konyol itu), bukan pula karena suratan takdir, melainkan karena ulah laki-laki. Maka, ia harus melawan, meski akhirnya tetap kalah (dikalahkan?). Puncak kemurkaan Tini terjadi pada sebuah malam jahanam saat ia menikamkan belati ke perut Jono, persis saat suaminya itu sedang berhimpitan dengan Suti, ronggeng dari Karangnongko. Alih-alih menebus gadaian pada Parman, Jono malah berniat menikah lagi dengan Suti. Digondolnya tabungan Tini selama bekerja hampir 5 tahun sebagai pemijat plus. Alhasil, Jono mati bersimbah darah di tangan istrinya sendiri, Tini meringkuk di penjara. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Tak lama kemudian Simbok bunuh diri setelah melihat pulung gantung untuk ke sekian kalinya.

Nama pengarang buku itu sesungguhnya Ngarto Februana, tapi yang tertera di sampulnya hanya Februana (seakan-akan nama perempuan). Seolah-olah kata Ngarto terlalu ndeso dan kolot. Padahal realitas yang hendak digambar Ngarto memang ndeso, melarat, dan kampungan, bukan dunia teenlit, metropop yang banyak digandrungi akhir-akhir ini. Barangkali tema-tema seputar kemiskinan, kemelaratan, dan ketertindasan memang sedang “miring” harganya. Jadi, perlu dikemas sedemikian rupa agar laris di pasaran…. (*)

30 November 2007

©2008 VHRmedia.com

No responses yet

Jun 09 2008

pitaloka

Mencari Pulang

Filed under Suara Rieke

Opini Kompas, 26 April 2007

Rieke Diah Pitaloka

Pulang identik dengan kembali ke tempat bermula kita pergi, rumah. Rumah adalah
hasil kerja keras, tujuan selepas mengurai tenaga sepanjang hari, tempat
membesarkan anak-anak, dan tempat berbagi cinta bersama keluarga.

Rumah adalah cita-cita, tempat ke mana kita akan kembali, kapan dan ke mana pun
kita pergi. Namun, hal itu tak berlaku bagi para korban lumpur panas Sidoarjo.
Bukan karena mereka tak punya rumah, melainkan karena rumah bukan lagi tempat
nyaman untuk bernaung. Mereka bukan tak ingin pulang, tetapi karena tak lagi
bisa pulang.

Berjumpa dengan korban

“Saya ingin pulang.” Kalimat itu tak asing bagi kita. Namun, makna kalimat itu
menjadi jauh berbeda saat diucapkan oleh Siti Rakhmawati (33), warga Perumtas,
seorang perempuan pengungsi di Pasar Baru Porong.

Tidak hanya rumahnya yang ditelan lumpur, usaha suami untuk memenuhi kebutuhan
rumah tangga juga ikut hancur. Suami Siti Rakhmawati, Sachnal, kini tidak
bekerja. Untuk menyambung hidup bersama dua anak mereka yang masih kecil, Siti
terpaksa menjadi pemulung.

Perjumpaan saya dengan Siti bukan pertemuan biasa. Lewat kata-kata terbata
menahan isak, saya jadi mengerti betapa tak mudah hidup di pengungsian.

Perjumpaan dengan korban membuat saya melihat hilangnya sorot cita di mata
anak-anak. Perjumpaan dengan korban menuntun saya untuk mendengar suara
kepedihan, melihat penderitaan, menyentuh kepapaan.

Pada saat menemui korban, pada detik itu, sebetulnya kita sedang diajari untuk
berada pada posisi orang lain. Secara otomatis kita akan diajak mengulurkan
tangan tanpa memedulikan perbedaan partai, agama, suku, atau status sosial. Pada
berbagai kasus, hal inilah yang menyebabkan pelaku biasanya menghindari
pertemuan dengan korban. Pelaku cenderung menggunakan pihak kedua untuk
menangani atau menyelesaikan masalah.

Sudah hampir satu tahun peristiwa lumpur panas Sidoarjo terjadi, tetapi hingga
kini belum ada penyelesaian mendasar. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan hanya
memperpanjang duka para pengungsi. Tak ada kepastian ganti rugi bagi sebagian
besar korban. Beberapa kali ada kunjungan pejabat negara, tetapi seperti itu
biasa, hanya seremoni yang diisi janji-janji belaka.

Korban tanpa wajah

Berbulan-bulan para korban lumpur Lapindo terpaksa tinggal di pengungsian.
Berbulan-bulan mereka memperjuangkan ganti rugi atas hilangnya rumah, lahan, dan
kampung halaman. Bukan ganti rugi sebetulnya, lebih tepat mereka “dipaksa
menjualnya”. Hak-hak dasar mereka sebagai manusia dirampas, begitu pula hak-hak
sebagai warga negara.

Tak ada keberpihakan yang nyata dari pengambil kebijakan terhadap para korban.
Ini sesuatu yang sering kita dengar. Namun, siapa saja sebenarnya yang masuk
kelompok pengambil kebijakan? Tak lain adalah kader partai politik yang sebagian
di antaranya saudagar. Akibatnya, politik menjadi ajang pertukaran ekonomi.
Transaksi ekonomi menjadi model relasi politik. Zoon politicon digantikan homo
oeconomicus.

Ketika politik tak lagi jadi seni untuk mengabadikan diri bagi kepentingan
bersama, masyarakat korban tak lebih dianggap barang dagangan. Dalam politik
seperti ini, tindak-tanduk politisi tak lebih dari sekadar tawar-menawar yang
sering dijumpai di pasar-pasar. Akibatnya, korban tak lagi dilihat sebagai
manusia yang punya emosi, marah, rasa sakit, duka, dan pedih. Korban hanya
diperhitungkan sebagai angka yang bisa ditambah, dikurangi, dikali, dibagi, atau
kalau perlu dihapus.

Model “politik pasar” seperti ini mengebiri hak-hak warga. Tak heran, kebutuhan
anak-anak untuk bermain, mendapat pendidikan, dan dilindungi pun diabaikan.
Kebutuhan akan kondisi yang sehat dan bersih bagi para perempuan, khususnya yang
sedang hamil dan menyusui, tak dipertimbangkan. Ketika politik disesaki
transaksi ekonomi, aspek sosial runtuh, termasuk pupusnya tradisi, seperti
ziarah kubur, dianggap bukan masalah.

Selama korban tak pernah dilihat sebagai manusia, maka untuk mendapatkan
hak-haknya sebagai manusia dan warga negara tak akan pernah terpenuhi. Selama
korban hanya dilihat sebagai angka, penyelesaian yang ada hanya akan memberi
untung bagi pelaku dan derita bagi korban. Artinya, usia penderitaan korban akan
setua usia politik transaksional. Selama itu pula pulang hanya tinggal kenangan.
Rumah menggantung di angan- angan, yang pelan tetapi pasti memudar di ufuk
Sidoarjo.

Rieke Diah Pitaloka Ketua Yayasan Pitaloka

Dimuat di Harian Kompas, 26 April 2007

No responses yet

Jun 09 2008

pitaloka

Emansipasi Ganda ala Kartini

Filed under Suara Rieke

Jumat, 21 April 2006


Rieke Diah Pitaloka

“Sudah beberapa kali kami mendengar tentang pejuang wanita India yang berani itu. Saya masih sekolah tatkala saya untuk pertama kali mendengar tentang dia. O, saya masih ingat benar; waktu itu saya masih sangat muda, baru 10 atau 11 tahun, hati saya menyala-nyala tatkala membaca tentang dia di surat kabar. Saya jadi menggigil karena emosi: jadi tidak hanya wanita kulit putih yang dapat mencapai kehidupan bebas! Wanita berkulit sawo matang juga dapat membebaskan diri dan hidup berdiri sendiri….”

Itulah cuplikan surat kepada Ny van Kol tertanggal 21 Juli 1902. Surat itu ditulis seorang perempuan Jawa yang hanya mengenyam pendidikan sampai bangku sekolah dasar. Saudara laki-lakinya setelah selesai sekolah dasar (ELS) dapat melanjutkan ke HBS, bahkan melanjutkan pendidikan di Belanda. Sementara ia dan saudara-saudara perempuannya dipaksa adat hidup dalam pingitan.

Namun, kenyataan itu tak memadamkan semangatnya untuk membuktikan, sama seperti laki-laki, perempuan punya hak mewujudkan cita-cita. Pemikiran-pemikiran yang dituangkan melalui surat-surat yang disampaikan kepada para sahabatnya membuat ia diakui sebagai pelopor emansipasi dan pejuang pendidikan bagi perempuan di Indonesia. Itulah RA Kartini.

Kartini hidup pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Saat itu perlakuan diskriminatif harus diterima semua golongan pribumi. Namun, bagi perempuan, diskriminasi juga terjadi akibat adat yang amat feodal. Bukan hanya karena dipingit sehingga terisolasi dari dunia luar, seorang perempuan juga harus mau dinikahkan dengan lelaki bukan pilihannya.

Sudah berubah?

Setelah 102 tahun Kartini wafat, sudah berubahkah nasib perempuan Indonesia? Memang, belum semua perempuan berkesempatan memperoleh pendidikan. Tetapi, harus diakui, kini tak sedikit perempuan dapat menikmati pendidikan hingga jenjang pendidikan tinggi. Sebagian perempuan juga menempati jabatan-jabatan penting. Tidak hanya itu, sejumlah profesi yang pada era Kartini hanya menjadi milik kaum lelaki kini sudah digeluti kaum perempuan.

Pertanyaannya, apakah dengan fenomena itu berarti kesetaraan jender telah tercipta? Apakah dengan keterlibatan perempuan di ruang publik berarti juga mandiri di wilayah domestik?

Beberapa waktu lalu, saya didatangi seorang perempuan. Usianya 27 tahun, berpendidikan, dan memiliki karier yang bagus. Secara ekonomi, perempuan ini tidak tergantung kepada suaminya yang juga berpendidikan. Kesan tangguh terlihat di wajahnya. Andai ia tidak menuturkan pengalaman pahitnya, saya tidak akan menduga bahwa ia adalah korban kekerasan dalam rumah tangga.

“Saya pernah aktif di sebuah universitas ternama, juga pernah bekerja di sebuah LSM yang memberi advokasi kepada perempuan korban kekerasan. Namun, ketika saya dalam posisi korban, ternyata saya tak mampu berbuat banyak,” tuturnya. “Saya tak berani melaporkan suami kepada pihak berwajib karena saya tidak mau merusak kariernya. Saya juga tidak mau keluarga jadi malu, apalagi mertua saya seorang tokoh agama.”

Ruang publik dan privat

Apakah yang dialami perempuan itu merupakan bentuk emansipasi yang diperjuangkan Kartini? Tentu tidak. Jika dilihat kembali cuplikan surat Kartini di awal, jelas emansipasi yang dimaksud harus merupakan perwujudan “kebebasan diri” dan “kemampuan berdiri sendiri”. Kedua kondisi itu harus dimiliki perempuan tidak hanya ketika ada di ruang publik, tetapi juga saat berada di wilayah domestik.

Ruang privat adalah tempat bagi individu untuk bersembunyi, mencari kenyamanan selepas berkarya dan bertindak. Wilayah domestik ada pada ruang ini, tak terkecuali bagi perempuan. Jadi, sudah seharusnya perempuan mendapat kenyamanan ketika ia kembali pada ruang privat.

Namun, karena sifatnya yang tertutup dari pandangan “orang luar”, yang terjadi justru sebaliknya. Ruang privat menjadi tempat yang nyaman bagi pelaku kekerasan domestik. Ketiadaan transparansi tindakan di ruang ini membuat pelaku kekerasan terlindung dari sanksi sosial dan sanksi hukum.

Jika di ruang privat manusia dapat menutupi tindakannya dari pandangan orang lain, tidak demikian jika manusia ada di ruang publik. Ruang publik adalah tempat identitas manusia diungkap dan perbuatan diingat. Ruang publik menuntut kejujuran. Idealnya, ketika perempuan ada di ruang publik, ia dapat terhindar dari kekerasan domestik. Hal itu dapat terwujud jika ruang privat dipahami sebagai satu kesatuan dengan ruang publik.

Namun, dalam budaya patriarki terjadi pembedaan antara kedua ruang itu. Artinya, terjadi pemisahan antara individu dan komunitas, pemisahan antara urusan rumah tangga dan urusan publik, sehingga terjadi pemisahan antara moralitas dan hukum.

Budaya patriarki

Dalam budaya patriarki, otoritas tertinggi ada pada suami, kepala rumah tangga, yang berhak menentukan aturan apa pun menyangkut orang-orang dalam rumah tangga, termasuk memberi “pelajaran” kepada istri.

Dengan cara pandang seperti itu, pelaku kekerasan tak akan merasa bersalah karena yang menjadi korban adalah istri yang ada dalam lingkup privatnya. Namun, sering kali pelaku tak sungkan melakukan tindak kekerasan di depan umum karena anggapan “urusan rumah tangga adalah urusan masing-masing”.

Memperingati kelahiran Kartini adalah membuka ruang dialog dengan gagasan-gagasannya. Emansipasi perempuan yang dimaksud Kartini tidak sekadar terbukanya pintu dunia pendidikan bagi perempuan.

Emansipasi mensyaratkan enyahnya cara pandang patriarki dari ruang privat sekaligus publik. Artinya, perjuangan kesetaraan jender tak hanya membutuhkan kerja akademis, tetapi juga politis. Selamat Hari Kartini.

Rieke Diah Pitaloka Lulusan S2 Filsafat Politik Universitas Indonesia

(dimuat di Harian Kompas 21 april 2006)

No responses yet

Jun 09 2008

pitaloka

Lumpur Lapindo : Berpaling dari Korban

Filed under Suara Rieke

Rieke Diah Pitaloka

Tanggal 8 Desember 2006, YLBHI mendaftarkan gugatan terhadap pemerintah dan Lapindo Brantas, terkait masalah semburan lumpur di Sidoarjo.

Materi gugatan di antaranya mengenai penanganan para tergugat yang lambat, tidak serius, yang justru menambah derita bagi korban. Tanggal 27 November 2007, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat membacakan putusan menolak gugatan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Pihak Lapindo dianggap tidak lalai dan tidak melakukan perbuatan melawan hukum. Pertimbangannya, perusahaan tersebut sudah mengeluarkan dana sebesar satu triliun lebih, serta sudah menjalin kerja sama yang baik dengan pemerintah untuk menangani semburan lumpur. Pemerintah pun dianggap sudah peduli, dengan bukti dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 14 Tahun 2007. Persoalannya, apakah dengan demikian rasa keadilan masyarakat korban lumpur Sidoarjo sudah dicukupi?

Bantuan atau kompensasi?

Apakah dana yang dikeluarkan Lapindo merupakan bantuan atau kompensasi? Pertanyaan ini menjadi penting karena keduanya memiliki landasan etika yang berbeda. Bantuan dasarnya adalah distribusi kekayaan. Adapun kompensasi adalah konsekuensi hukum yang harus diterima seseorang atau perusahaan apabila gagal memenuhi kewajiban moral untuk tidak menciptakan bahaya bagi orang lain.

Jika dana dari Lapindo berupa bantuan, maka besar dan bentuknya memang tidak mempertimbangkan kondisi serta hak-hak korban. Pemberi bantuan menentukan berupa apa, seperti apa, dengan cara apa bantuan akan diberikan. Pemberi bantuan tak perlu peduli apakah bantuan bermanfaat atau tidak, cukup atau tidak bagi korban.

Sedangkan bila dana yang dikeluarkan Lapindo dianggap sebagai kompensasi, maka hak-hak korbanlah yang harus menjadi acuan. Korban yang tentukan kompensasi seperti apa yang harus ia terima. Kompensasi dianggap berhasil saat hak-hak korban sudah pulih, sudah terpenuhi seperti sedia kala. Kompensasi menjelaskan siapa korban, siapa pelaku.

Jika melihat mekanisme pembayaran yang diterima oleh para korban semburan lumpur, dana yang dikeluarkan Lapindo tak lebih dari sekadar bantuan. Namun, putusan PN Jakpus menggoreskan paradigma yang rancu, yang mencampuradukkan antara bantuan dan kompensasi. Putusan itu bahkan terkesan menjadikan bantuan Lapindo sebagai izin untuk merusak dan menciptakan penderitaan.

Kepedulian?

Peduli dan penanganan serius adalah dua hal yang berbeda. Diterbitkannya Perpres No 14/2007 tidak bisa dijadikan bukti bahwa pemerintah sudah serius menangani persoalan yang disebabkan semburan lumpur.

Setidaknya ada tiga kekeliruan yang mendasar dari perpres tersebut. Pertama, tanggung jawab Lapindo terhadap masalah sosial akibat semburan lumpur dibatasi oleh perpres hanya meliputi daerah-daerah tertentu. Padahal, sejak awal kerugian materi dan dampak sosial, serta kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, seharusnya dapat diprediksi akan meluas. Konsekuensi pembatasan tersebut menyebabkan daerah-daerah lain yang juga dirugikan tidak memperoleh penanganan. Tak heran jika kemudian protes warga di sekitar Sungai Porong, mengenai pendangkalan sungai akibat lumpur, tidak mendapatkan tanggapan serius dari pemerintah dan Lapindo.

Kedua, dalam perpres ditegaskan ketika para korban akan menerima uang dari pihak Lapindo, mereka harus menunjukkan sertifikat hak atas tanah. Kepemilikan sertifikat akan berpindah saat korban menerima pembayaran. Perpres tersebut memperkuat asumsi bahwa pembayaran yang diterima para korban bukan ganti rugi, tapi jual-beli belaka. Artinya, kerusakan lingkungan dan penurunan kualitas hidup akibat semburan lumpur tidak ditangani, tidak digantikan.

Ketiga, secara jelas tertera dalam perpres bahwa hal-hal yang tidak ditangani atau tidak dilakukan pembayaran oleh Lapindo jadi tanggung jawab negara, yang akan didanai dengan APBN. Ini berarti perpres sudah melanggar prinsip hukum lingkungan yang mewajibkan pencemar membayar semua kerugian yang ditimbulkannya (polluter-pays principle). Alih-alih menerapkan prinsip tersebut, pemerintah justru menyubsidi pencemar. Pemerintah bahkan memakai APBN, yang berasal dari masyarakat, artinya termasuk dari para korban, untuk meringankan tanggung jawab perusak lingkungan.

Dengan kata lain, bagi saya, perpres bukan bukti kepedulian, apalagi bukti penanganan serius dari pemerintah terhadap dampak yang ditimbulkan oleh semburan lumpur. Perpres malah jadi bukti bahwa pemerintah, diakui atau tidak, sudah membuat hukum lingkungan kita jadi lumpuh.

Ini yang lebih memprihatinkan. Tepat satu tahun setelah YLBHI mendaftarkan gugatan, sebuah iklan tanpa nama pengiklan (The Jakarta Post, 8 Desember 2007) menyatakan bahwa semburan lumpur di Sidoarjo merupakan gejala alam akibat mud volcano, bukan akibat pengeboran yang dilakukan Lapindo. Peristiwa tersebut bahkan malah dikaitkan dengan gempa bumi di Yogya, Mei 2006.

Iklan yang sama juga mengklaim bahwa Lapindo sudah menyelesaikan permasalahan sosial seperti yang diamanatkan oleh Perpres No 14/2007. Tertulis pula bahwa pihak perusahaan telah membantu para korban dengan melakukan pembayaran untuk uang sewa rumah selama dua tahun, ongkos pindah, lauk pauk, transportasi sekolah, penyediaan buku, dan sebagainya. Hal itu dilakukan oleh Lapindo, menurut iklan tadi, untuk kepentingan para korban.

Ada benang merah yang menghubungkannya dengan putusan PN Jakpus dan Perpres No 14/2007. Ketiganya bernada sama, tidak hanya tak memperhitungkan kerusakan lingkungan, tapi juga menafikan kemanusiaan korban. Lagi-lagi korban hanya dilihat sebagai angka, bukan sebagai manusia. Jika cara pandang ini dipertahankan, pemulihan hak-hak korban sampai kapan pun tidak akan terpenuhi. Penanganan optimal pun jadi isapan jempol belaka.

Rieke Diah Pitaloka Ketua Umum Yayasan Pitaloka

No responses yet

Jun 09 2008

pitaloka

Kekerasan Tak Bersuara

Filed under Suara Rieke


Rieke Diah Pitaloka

Setiap kekuasaan sejatinya bisa melihat, mendengar, atau membaca suara korban lewat pelbagai media. Namun, itu tidak berlaku bagi buruh migran.

Suara mereka begitu lemah sehingga tak terdengar kekuasaan. Bahkan, kekerasan yang mereka rasakan sering tak bersuara. Parahnya lagi, para pelaku acapkali justru aparat kekuasaan, langsung atau tidak langsung.

Tak semua kekerasan terartikulasi secara gamblang. Ada tindak tanduk tak berbunyi yang termasuk dalam kekerasan terhadap buruh migran. Hal itu sudah atau sedang dilakukan aparat dan birokrat. Aneka tindak kekerasan mereka diselimuti berbagai istilah, menyelinap ke berbagai kebijakan, dikemas dengan bahasa yang santun.

Kekerasan melalui bahasa, misalnya. Bahasa yang seolah mengangkat harkat, sebenarnya menggerogoti kemanusiaan. Tak terekam, tak terabadikan, tetapi ada. Semacam propaganda, yang kemudian dianggap sebagai penghargaan. Diadaptasi sebagai bahasa sehari-hari dan jadi bagian percakapan biasa, namun berdampak luar biasa.

Pahlawan devisa

Gelar pahlawan adalah suatu kehormatan di masyarakat. Kata pahlawan diberikan berdasar patriotisme, pengorbanan, kerja keras, sekaligus keteladanan. Namun, frase pahlawan devisa bagi buruh migran maknanya amat bias. Frase pahlawan devisa sebenarnya adalah kosakata politik yang merendahkan.

Buruh migran hanya dipandang sebagai angka yang mengucur ke kas negara. Mereka tak dianggap pahlawan karena mengurangi jumlah penganggur di dalam negeri, orang yang telah memperbaiki kesejahteraan bangsa, apalagi orang yang berkorban menyelamatkan keluarga. Itu sebabnya, kekerasan yang menimpa buruh di luar negeri hanya dipandang sebagai rusaknya salah satu baut mesin uang negara. Tak lebih.

“Kekerasan tak bersuara” lain yang dilakukan pemerintah adalah didirikannya Terminal Tiga. Terminal khusus bagi keberangkatan dan terutama kedatangan buruh migran. Pengkhususan terkesan pengistimewaan. Hanya mereka yang berlabel TKI yang melalui terminal ini.

Namun, tengok kondisi Terminal Tiga Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Jauh dari terminal lain, tertutup, dijaga ketat aparat. Butuh izin khusus atau dokumen resmi untuk masuk. Sebagian besar TKI yang lalu lalang adalah PRT, buruh pabrik, atau buruh kasar, yang pergi atas jasa PJTKI. Fasilitas yang ada pun berbeda dari terminal lain. Terminal Tiga tak lebih terminal bus antarkota yang kebetulan bertempat di bandara internasional.

Saat ada buruh migran datang dan mencoba tidak melalui Terminal Tiga, aparat di terminal kedatangan segera menggiring ke Terminal Tiga. Keberadaan Terminal Tiga sepintas sebuah kewajaran, tetapi sebenarnya menjadi legitimasi aparat untuk melakukan diskriminasi dan kekerasan terhadap buruh migran.

Buruh migran seperti lumrah diposisikan sebagai warga negara kelas dua. Mereka yang sepatutnya menerima pelayanan kelas dua. Kalau mau membantu buruh migran, lebih baik membangun sistem pemberangkatan dan pemulangan yang manusiawi dan transparan agar yang terjadi tak luput dari sorotan publik. Perlakukan mereka sama dengan penumpang lain, lewat terminal biasa. Tak perlu Terminal Tiga.

Pembiaran

Berdasarkan data Migrant Care, Januari-Agustus 2007, tidak kurang dari 104 buruh migran tewas di negara tempat mereka bekerja, dianiaya majikan. Kasus terakhir terjadi di Afjal, Arab Saudi. Tujuh anggota keluarga menyiksa empat PRT Indonesia dua hari berturut-turut, 3-4 Agustus. Esoknya dibawa ke rumah sakit. Dua orang tewas, dua dirawat di ICU. Pejabat Indonesia terkait datang menjenguk pada tanggal 8 Agustus. Anehnya, Deplu RI baru mewartakan 9 Agustus.

Pada kasus itu, Pemerintah Indonesia tidak membuat nota protes kepada Pemerintah Arab Saudi. Ini bukti bagaimana kekuasaan membisu saat terjadi kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan. Hilangnya nyawa buruh migran kita dianggap hilangnya sekeping logam perak devisa negara. Republik macam apa?

Sikap pemerintah tak sebersemangat saat menghitung devisa yang dihasilkan buruh migran. Ironisnya, berbagai kasus acapkali terjadi sejak masih menjadi calon pekerja di penampungan di dalam negeri. Dengan berbagai dalih, kekuasaan bergeming meski para pelaku ada di depan mata. Jejaring mafia penyaluran tenaga kerja bagai dibiarkan terus tebarkan tangan-tangan guritanya.

Hak tiap warga

Adalah hak setiap warga negara untuk mendapat perlindungan kekuasaan. Salah satu bentuk perlindungan nyata adalah menyediakan fasilitas dan menyiapkan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kemampuan calon tenaga kerja. Pemerintah melindungi dengan jalan mengontrol, mengawasi, dan memberi sanksi bagi pelaku kejahatan, termasuk pelaku di dalam instansi terkait.

Melindungi berarti bersuara dengan meratifikasi dan menjalankan konvensi PBB tentang perlindungan terhadap buruh migran dan keluarganya. Melindungi berarti memberikan hak- hak buruh migran, mulai menuju penampungan, sampai pulang ke kampung halaman. Jika tidak, terbukti kekuasaan telah membiarkan hak-hak asasi manusia warganya yang lemah direnggut begitu saja. Saya hanya tahu satu hal, pembiaran adalah “kekerasan tak bersuara” dalam wujudnya yang paling paripurna.

Rieke Diah Pitaloka Chairwoman Pitaloka Foundation

(dimuat di harian KOMPAS, 1 September 2007)

One response so far