• 20

    Apr

    Selamat Jalan Franky Sahilatua

    Franky Sahilatua yang mengenalkan saya dengan politik empati, Franky Sahilatua yang pertama kali memperkenalkan pada perjuangan buruh dan TKI, kami berdua sering bertugas temani Gus Dur. Franky Sahilatua dan Gus Dur yang mendorong saya memilih PDI-P sebagai rumah politik, Franky Sahilatua yg menguatkan saya untuk bertahan menghadapi “guncangan” dari luar dan dalam partai sendiri. Franky Sahilatua kekuatan bagi saya untuk tidak pernah lelah berjuang utk rakyat… Saya sakit hati, kl saja SJSN dijalankan. Tidak perlu Franky Sahilatua dan rakyat lainnya hrs “mengemis” utk bs berobat saat ...
  • 27

    Jan

    RAPORT 100 HARI KINERJA MENTERI KESEHATAN

    Pernyataan berhasil bagi kinerja 100 hari menteri KIB II adalah sebuah penyesatan logika publik. Begitu pula dengan penilaian terhadap kinerja 100 hari Menteri Kesehatan. Persentasi Menteri Kesehatan pada Rapat Kerja dengan Komisi IX disampaikan bahwa dari 12 rencana aksi hampir seluruhnya sudah tercapai (114,8%) pada H75 Berdasarkan realitas yang ada dimasyarakat, terkait carut marutnya pelayanan kesehatan, persoalan obat, tenaga medis dan keamanan di lembaga kesehatan, saya menilai: PARAMETER SUKSES PROGRAM 100 HARI MENTERI KESEHATAN TIDAK JELAS, karena TIDAK MENYELESAIKAN dan TIDAK MEMBENAHI AKAR PERSOALAN, TIDAK MEMBERI SOLUSI PERSOLAN KESEHATAN MASYARAKAT. Ibarat penyataan BPK terhadap laporan keuangan pemerintah SBY, selama lima tahun berturut-turut menilai DISCLAIMER, maka penilai
  • 14

    Oct

    Alhamdulillah

    “Kawan-kawan tersayang, terima kasih untuk doa dan supportnya. Alhamdulillah, berdasarkan keputusan pimpinan Fraksi PDI-P, saya ditugaskan di Komisi IX yang membidangi tenaga kerja, kesehatan, BKKBN, POM, Askes, Jamsostek. Salam juang, Rieke Diah Pitaloka, DPR RI, A-339
  • 13

    Oct

    Ratifikasi Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran Dan Keluarganya

    Orasi Budaya, disampaikan di Komnas Perempuan, 12 Oktober 2009 dalam rangka dukungan pada Ratifikasi Konvensi PBB 1990 Jauh sebelum standar hukum yang telah ditetapkan dalam mengatur perlindungan HAM, sebagai manusia yang dilahirkan untuk bisa saling berbagi dan saling melindungi, kita sepakat bahwa penghilangan segala bentuk hak yang melekat pada seseorang adalah sebuah kejahatan terhadap kedaulatan manusia. Hari ini, berapa puluh kali kita menjadi saksi betapa penghilangan hak-hak pekerja migran menjadi santapan tak terelakan lagi. Fenomena itu sungguh teramat ironis mengingat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara pengirim pekerja migran terbesar di dunia, dan sudah barang tentu, memberikan manfaat finansial bagi negara. Pada tahun 2008 misalnya, diperkirakan terdapat lebih dari
  • 9

    Oct

    PERNYATAAN SIKAP RIEKE DIAH PITALOKA

    Pernyataan Sikap Rieke Diah Pitaloka Terkait Tragedi Kekerasan terhadap Hapsari, Pekerja Rumah Tangga Asal Wonosobo, Jawa Tengah. Peristiwa mengenaskan yang menimpa pekerja rumah tangga (PRT) bernama Hapsari, 39 tahun menjadi bukti kekerasan terhadap para PRT terus saja terjadi. Kita Memiliki KUH Pidana dan UU Penghapusan KDRT, namun melihat banyaknya kasus serupa yang menimpa PRT di dalam dan di luar negeri, membuktikan bahwa perangkat hukum yang ada tidaklah mencukupi untuk memberikan perlindungan terhadap korban dan efek jera kepada pelaku. Menanggapi peristiwa tersebut maka, saya Rieke Diah Pitaloka, anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan menyatakan : Turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga Hapsari dan mendoakan almarhumah mendapat tempat yang l
  • 22

    Dec

    22 Desember: Hari Kebangkitan Perempuan INDONESIA Bukan Hari Ibu!

    Sebut saja, Pariyem sang tokoh dalam prosa lirik Linus Suryadi AG, Nyai Ontosoroh tokoh novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer, Marieneti Dianwidhi Sang tokoh novel Burung-burung Rantau karya YB Mangunwijaya, dan Cok, sang tokoh dalam novel Saman karya Ayu Utami. Empat tokoh perempuan Indonesia yang muncul dalam karya sastra, dengan latar belakang, zaman, dan semangat perempuan yang berbeda, kesemuanya menunjukkan wanita super sanggup memberi warna pada kehidupan. Lalu bagaimana dengan perempuan Indonesia sesungguhnya (non-fiksi)? Sebut saja Dewi Sartika, perempuan kelahiran Bandung, 4 Desember 1884 wafat di Tasikmalaya, 11 September 1947 dalam umur 62 tahun. Dewi Sartika adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan jauh sebelum RA Kartini, diakui sebagai Pahlawan Nasiona
  • 19

    Dec

    Hari Terakhir di Good Morning

    Hai semuanya… mohon maaf sudah lama nggak ngisi blog karena kesibukan. Tapi hari ini rasanya harus nulis blog karena ada moment yang sayang kalau tidak dibagi sama temen-temen blogger detik. Hari ini hari adalah hari terakhir saya siaran di acara Good Morning setelah hampir 4 tahun setiap pagi jam 08.30 sampai dengan jam 09.30 saya menemani pemirsa trans tv. Keputusan untuk meninggalkan acara yang sangat saya cintai ini karena saya ingin serius di dunia politik. Banyak kenangan selama saya membawakan acara Good Morning. Saya juga banyak belajar. Di acara itu mendekatkan saya dengan masyarakat karena mengangkat isu-isu keseharian yang membuat saya bertemu dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Karena program ini saya jadi rajin nonton berita dan baca koran. Sebagai presenter
  • 12

    Sep

    Hamil Gara-gara Ngeblog?

    eh apa kabar neh? Aduh, maaf bgt ya, baru bisa nemuin temen2 sekarang, kemarin2 waktu lagi baru diajar ngeblog sama bang marwan dari detik, eh tau-taunya hamil. Udah tiga tahun terapi, alhamdulillah hamil juga, seneng tapi puyeng 2 terus, mabuk berat, jadi ngga bisa ngapa-ngapain (sst… jangan2 hamil gara2 ngeblog ya, tau gitu dari dulu deh nulis di blog) Btw thanks bgt buat yang udah singgah di blogku, kalau mau share atau curhat juga boleh, siapa tahu kalau temen2 ada masalah kita bisa cari solusi bareng2 Ngemeng-ngemeng soal aktivitasku skrg ini ngga terlalu banyak. Karena aku punya catatan medis yg kurang baik dgn kehamilan yg dulu, dokter bilang skrg harus lebih dijaga. Jadi udah deh habis s...
  • 30

    Jun

    Siit Uncuwing

    Setiap pagi bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari. Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi, sungai-sungai keperakan. Bekelip menyilaukan. Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Ada jembatan di atasnya. Jalan raya tepatnya. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Jalan itu dulu setiap hari dilewati Arum dan Nining. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. Dua setengah kilometer jauhnya dari rumah. Sangat pagi. Waktu membuka pintu, kabut berebut kecup pipi mereka. Satu dua kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Embun basahi sepatu sekolah. Arum p
  • 9

    Jun

    Lintang

    Mengenang perempuan itu ibarat menonton cukilan-cukilan adegan yang diam-diam menyatu dalam sebuah film. Wajahnya seperti embun, matanya bening. Bibir mungilnya selalu tersenyum membuat setiap orang yang bertemu ingin menyapa. Ia seorang perempuan yang merancang sendiri kehidupannya. Sejak remaja ditentukannya apa yang akan ia lakukan, kapan akan menikah, dengan laki-laki seperti apa, akan punya anak berapa, seperti apa akan membesarkan mereka, itu semua sudah ia pikirkan. Perempuan itu menggoreskan sendiri takdirnya. Saat berusia dua puluh tahun ia jadi ibu dari dua orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki. Sebuah peristiwa telah merubah impiannya, jadi mimpi menyeramkan. Sekolah tempat ia bekerja dibakar. Ayah dan suaminya menghilang entah ke mana. Tinggal lah ia bersama ibu, delap
- Next

Author

Follow Me