• 30

    Jun

    Siit Uncuwing

    Setiap pagi bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari. Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi, sungai-sungai keperakan. Bekelip menyilaukan. Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Ada jembatan di atasnya. Jalan raya tepatnya. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Jalan itu dulu setiap hari dilewati Arum dan Nining. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. Dua setengah kilometer jauhnya dari rumah. Sangat pagi. Waktu membuka pintu, kabut berebut kecup pipi mereka. Satu dua kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Embun basahi sepatu sekolah. Arum p
  • 9

    Jun

    Lintang

    Mengenang perempuan itu ibarat menonton cukilan-cukilan adegan yang diam-diam menyatu dalam sebuah film. Wajahnya seperti embun, matanya bening. Bibir mungilnya selalu tersenyum membuat setiap orang yang bertemu ingin menyapa. Ia seorang perempuan yang merancang sendiri kehidupannya. Sejak remaja ditentukannya apa yang akan ia lakukan, kapan akan menikah, dengan laki-laki seperti apa, akan punya anak berapa, seperti apa akan membesarkan mereka, itu semua sudah ia pikirkan. Perempuan itu menggoreskan sendiri takdirnya. Saat berusia dua puluh tahun ia jadi ibu dari dua orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki. Sebuah peristiwa telah merubah impiannya, jadi mimpi menyeramkan. Sekolah tempat ia bekerja dibakar. Ayah dan suaminya menghilang entah ke mana. Tinggal lah ia bersama ibu, delap
-

Author

Follow Me