• 22

    Dec

    22 Desember: Hari Kebangkitan Perempuan INDONESIA Bukan Hari Ibu!

    Sebut saja, Pariyem sang tokoh dalam prosa lirik Linus Suryadi AG, Nyai Ontosoroh tokoh novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer, Marieneti Dianwidhi Sang tokoh novel Burung-burung Rantau karya YB Mangunwijaya, dan Cok, sang tokoh dalam novel Saman karya Ayu Utami. Empat tokoh perempuan Indonesia yang muncul dalam karya sastra, dengan latar belakang, zaman, dan semangat perempuan yang berbeda, kesemuanya menunjukkan wanita super sanggup memberi warna pada kehidupan. Lalu bagaimana dengan perempuan Indonesia sesungguhnya (non-fiksi)? Sebut saja Dewi Sartika, perempuan kelahiran Bandung, 4 Desember 1884 wafat di Tasikmalaya, 11 September 1947 dalam umur 62 tahun. Dewi Sartika adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan jauh sebelum RA Kartini, diakui sebagai Pahlawan Nasiona
  • 9

    Jun

    Menakar Harga Perempuan

    Konon orang-orang Gunungkidul melihat pulung gantung beberapa hari sebelum bencana gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta. Sebentuk sasmita alam dalam wujud bola cahaya sebesar batok kepala berwarna biru kemerahan melayang-layang di angkasa. Sejak lama orang-orang Gunungkidul percaya pulung gantung sebagai pertanda musibah maha-dahsyat bakal tiba. Percaya atau tidak, banyak yang mati gantung diri setelah menyaksikan firasat gaib itu. Sejumlah penelitian perihal kecenderungan bunuh diri di Gunungkidul kerap dihubungkaitkan dengan mitos pulung gantung. Mereka memilih mati lebih dulu, sebelum petaka itu datang, toh nanti juga bakal mati.Begitulah jalan aman yang ditempuh ayah Tini seperti dikisahkan novel Harga Seorang Wanita (2006) yang saya baca beberapa bulan lalu. Suat
  • 9

    Jun

    Emansipasi Ganda ala Kartini

    Jumat, 21 April 2006 Rieke Diah Pitaloka “Sudah beberapa kali kami mendengar tentang pejuang wanita India yang berani itu. Saya masih sekolah tatkala saya untuk pertama kali mendengar tentang dia. O, saya masih ingat benar; waktu itu saya masih sangat muda, baru 10 atau 11 tahun, hati saya menyala-nyala tatkala membaca tentang dia di surat kabar. Saya jadi menggigil karena emosi: jadi tidak hanya wanita kulit putih yang dapat mencapai kehidupan bebas! Wanita berkulit sawo matang juga dapat membebaskan diri dan hidup berdiri sendiri.” Itulah cuplikan surat kepada Ny van Kol tertanggal 21 Juli 1902. Surat itu ditulis seorang perempuan Jawa yang hanya mengenyam pendidikan sampai bangku sekolah dasar. Saudara laki-lakinya setelah selesai sekolah dasar (EL
-

Author

Follow Me