• 9

    Jun

    Menakar Harga Perempuan

    Konon orang-orang Gunungkidul melihat pulung gantung beberapa hari sebelum bencana gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta. Sebentuk sasmita alam dalam wujud bola cahaya sebesar batok kepala berwarna biru kemerahan melayang-layang di angkasa. Sejak lama orang-orang Gunungkidul percaya pulung gantung sebagai pertanda musibah maha-dahsyat bakal tiba. Percaya atau tidak, banyak yang mati gantung diri setelah menyaksikan firasat gaib itu. Sejumlah penelitian perihal kecenderungan bunuh diri di Gunungkidul kerap dihubungkaitkan dengan mitos pulung gantung. Mereka memilih mati lebih dulu, sebelum petaka itu datang, toh nanti juga bakal mati.Begitulah jalan aman yang ditempuh ayah Tini seperti dikisahkan novel Harga Seorang Wanita (2006) yang saya baca beberapa bulan lalu. Suat
  • 9

    Jun

    Mencari Pulang

    Opini Kompas, 26 April 2007 Rieke Diah Pitaloka Pulang identik dengan kembali ke tempat bermula kita pergi, rumah. Rumah adalah hasil kerja keras, tujuan selepas mengurai tenaga sepanjang hari, tempat membesarkan anak-anak, dan tempat berbagi cinta bersama keluarga. Rumah adalah cita-cita, tempat ke mana kita akan kembali, kapan dan ke mana pun kita pergi. Namun, hal itu tak berlaku bagi para korban lumpur panas Sidoarjo. Bukan karena mereka tak punya rumah, melainkan karena rumah bukan lagi tempat nyaman untuk bernaung. Mereka bukan tak ingin pulang, tetapi karena tak lagi bisa pulang. Berjumpa dengan korban “Saya ingin pulang.” Kalimat itu tak asing bagi kita. Namun, makna kalimat itu menjadi jauh berbeda saat diucapkan oleh Siti Rakhmawati (33), warga Perumtas, seorang
  • 9

    Jun

    Emansipasi Ganda ala Kartini

    Jumat, 21 April 2006 Rieke Diah Pitaloka “Sudah beberapa kali kami mendengar tentang pejuang wanita India yang berani itu. Saya masih sekolah tatkala saya untuk pertama kali mendengar tentang dia. O, saya masih ingat benar; waktu itu saya masih sangat muda, baru 10 atau 11 tahun, hati saya menyala-nyala tatkala membaca tentang dia di surat kabar. Saya jadi menggigil karena emosi: jadi tidak hanya wanita kulit putih yang dapat mencapai kehidupan bebas! Wanita berkulit sawo matang juga dapat membebaskan diri dan hidup berdiri sendiri.” Itulah cuplikan surat kepada Ny van Kol tertanggal 21 Juli 1902. Surat itu ditulis seorang perempuan Jawa yang hanya mengenyam pendidikan sampai bangku sekolah dasar. Saudara laki-lakinya setelah selesai sekolah dasar (EL
  • 9

    Jun

    Lumpur Lapindo : Berpaling dari Korban

    Rieke Diah Pitaloka Tanggal 8 Desember 2006, YLBHI mendaftarkan gugatan terhadap pemerintah dan Lapindo Brantas, terkait masalah semburan lumpur di Sidoarjo. Materi gugatan di antaranya mengenai penanganan para tergugat yang lambat, tidak serius, yang justru menambah derita bagi korban. Tanggal 27 November 2007, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat membacakan putusan menolak gugatan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Pihak Lapindo dianggap tidak lalai dan tidak melakukan perbuatan melawan hukum. Pertimbangannya, perusahaan tersebut sudah mengeluarkan dana sebesar satu triliun lebih, serta sudah menjalin kerja sama yang baik dengan pemerintah untuk menangani semburan lumpur. Pemerintah pun dianggap sudah peduli, dengan bukti dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 14
  • 9

    Jun

    Kekerasan Tak Bersuara

    Rieke Diah Pitaloka Setiap kekuasaan sejatinya bisa melihat, mendengar, atau membaca suara korban lewat pelbagai media. Namun, itu tidak berlaku bagi buruh migran. Suara mereka begitu lemah sehingga tak terdengar kekuasaan. Bahkan, kekerasan yang mereka rasakan sering tak bersuara. Parahnya lagi, para pelaku acapkali justru aparat kekuasaan, langsung atau tidak langsung. Tak semua kekerasan terartikulasi secara gamblang. Ada tindak tanduk tak berbunyi yang termasuk dalam kekerasan terhadap buruh migran. Hal itu sudah atau sedang dilakukan aparat dan birokrat. Aneka tindak kekerasan mereka diselimuti berbagai istilah, menyelinap ke berbagai kebijakan, dikemas dengan bahasa yang santun. Kekerasan melalui bahasa, misalnya. Bahasa yang seolah mengangkat harkat, sebenarnya menggerogo
Prev -

Author

Follow Me